Sabtu, 30 Oktober 2010

Keseimbangan Antara Dakwah dan Kuliah

Bagaimana caranya untuk menyeimbangkan antara dakwah dan kuliah, agar aktifitas kuliah tetap baik dan kinerja dakwah tetap optimal. Barangkali ini pertanyaan yang sering kita temukan pada diri sebagian kader dakwah. Tidak bisa kita pungkiri ketika tugas utama kita sebagai mahasiswa adalah belajar, belajar yang rajin, dapat IPK yang bagus, dan lulus dengan waktu singkat. Mindset seperti itulah yang tertanam dalam diri kebanyakan mahasiswa. Akan tetapi, bagaimana dengan status kita sebagai kader dakwah, tentu saja tidak akan memikirkan diri kita sendiri karena umat membutuhkan bantuan kita. Selain itu, hal yang cukup sering dijumpai ketika aktifitas dakwah menjadi kambing hitam akibat menurunnya nilai akademis kader dakwah, seakan-akan aktifitas dakwahlah yang menyebabkan semuanya. Paradigma seperti ini harus diubah, kallau tidak akan menjadi benalu yang membahayakan. Oleh karena itu, perlu kita cari solusi bagaimana kuliah kita lancar, aktifitas dakwah pun tetap jalan. Berikut ini langkah-langkah yang perlu diperhatikan :

1. Life is about mindset.

Jargon ini tidak terbantahakan lagi. Ketika kita berpikir bahwa kita bisa berdakwah secara optimal dengan tetap mendapatkan nilai akademis yang memuaskan, maka insyaALLAH akan menjadi kenyataan, dibarengi dengan usaha yang maksimal tentunya.

2. Fokus pada apa yang dikerjakan.

Hal yang terberat adalah perjuangan mengendalikan diri sendiri, termasuk untuk fokus pada apa yang dihadapi. Contohnya, ketika kuliah ya fokus dengan pelajaran jangan berfikir tentang tanggung jawab dakwah. Begitu pula ketika dalam aktifitas dakwah jangan memikirkan persoalan kuliah.

3. Memperhatikan dan mencatat di kelas

4. Mengalokasikan waktu belajar setiap hari

5. Jangan menunda mengerjakan tugas, kuliah maupun dakwah

6. Alokasikan waktu kegiatan dengan tepat serta memilih tanggung jawab yang sesuai dengan kapasitas diri.

Insyaallah jika kita tetap istiqomah maka ALLAH akan menunjukkan jalanNya. Kinerja dakwah optimal dibarengi dengan nilai akdemis yang memuaskan. Sungguh meruakan kader dakwah yang ideal..

Wallahu alam bisshawab.
(Oleh Ramadhanil, BKLDK Undip)

Refleksi Bencana

Innalillahi wa innailaihi rajiun…
Bumi kembali menggugat dengan bahasa guncangan yang datang silih berganti di negeri ini.
Benarlah firman Allah dalam QS. Ar-Rum:41 " Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”
Qs. Al Anfal:25 "…dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tdk hanya menimpa orang-orang dzalim saja diantara kamu. ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaNya “

Diperkuat pula dalam hadits Ahmad dan thabrani:

"Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia karena perbuatan orang tertentu sampai manusia melihat kemungkaran tersebut, tapi mereka tidak mengingkarinya. Maka Allah akan mengazab masyarakat dan orang-orang tadi”

Ya Rabb, ku yakini semua bencana yang kini tengah menyapa adalah curahan kasih sayangMu. Ungkapan yang memberi pelajaran begitu dalam dan berharga agar kami kembali pada jalan yang benar. Hanya saja kami yang sering tidak memahaminya. Kami saja yang lalai hingga terjadi kerusakan di muka bumi baik di laut ataupun darat. Kami yang mengaku sebagai pejuangMu pun belum optimal dalam mencegah ulah pembuat maksiat yakni orang-orang yang enggan menerapkan syariatMu.

Semua jenis kemaksiatan tampaknya telah menjamur, maka wajarlah jika Allah menimpakan bencana di negeri ini sebagai peringatan. Untuk itu tiada jalan lain kecuali perzinaan segera diberantas sampai ke akar-akarnya (bukan malah dilokalisasi dan dipelihara); ekonomi curang harus segera ditinggalkan (termasuk segala transaksi yang didasarkan pada ekonomi kapitalis seperti perbankan ribawi, bursa saham dan valas, utang luar negeri, privatisasi BUMN, dll); zakat harus segera ditunaikan; perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya tidak boleh dilanggar; dan hukum-hukum Allah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah harus segera diterapkan oleh negara.
Jika tidak, berarti kita sedang menantang datangnya musibah yang lebih dahsyat lagi. Tsumma naudzubillah…

Layaknya inilah yang membuat kita khawatir, karena azab bukan hanya ditimpakan pada pelaku maksiat, namun mereka yang tidak mengingkari kemaksiatan tersebut juga turut merasakan dampaknya. Apalagi yang ditunggu, sudah cukup peringatan – peringatan itu membuat kita bangun dari mimpi panjang. Orientasi duniawi yang begitu muluk seolah hidup hanya berujung pada tanah kuburan.

Padahal perjalanan belum berakhir saat nyawa meregang dari tubuh kita, justru saat itulah merupakan gerbang utama menuju kehidupan abadi. Masalahnya siapa yang tahu kapan diri ini menemui ajal, dan dalam kondisi seperti apa saat ajal menjemput. Ketika beribadahkah? Atau sedang melakukan aktivitas yang dilaknat Allah? Wallahua’lam.

Dan setelah itu masih ada gerbang – gerbang lain yang ‘mau tidak mau’ harus dilalui. Yaumil baats, yaumil mahsyar, yaumil mizan, dst..... Disini yang menjadi titik fokusnya, bagaimana agar kita mampu melaluinya dengan selamat? Yah,, satu – satunya penyelamat itu adalah amal yang kita bawa dari dunia. Para amal itu yang akan menjelma menjadi mutiara – mutiara penyelamat kita kelak. Inilah yang senantiasa diupayakan. Menjadikan setiap langkah, setiap detik dan setiap hembusan nafas bernilai amal ibadah di sisiNya. InsyaAllah, Allahumma Amiin…

Senin, 19 Juli 2010

LEDAKAN PENDUDUK, ANCAMAN BAGI SIAPA?

Demam kekhawatiran akan ledakan jumlah penduduk sedang menyerang tubuh
dunia. Termasuk didalamnya Indonesia juga merasa was-was akan
pertambahan penduduk yang semakin tidak terkendali. Terbukti dari
riset populasi global (2008) bahwa tingkat pertumbuhan penduduk
rata-rata mencapai 6 % pertahun. Dengan angka tersebut jika tidak ada
bencana alam secara demografi maka populasi dunia akan mencapai 9
milyar pada tahun 2050, ini berarti dalam jangka 40 tahun ke depan
dunia mengalami pertambahan penduduk sebanyak 2,3 milyar dari populasi
saat ini yang berkisar 6,7 milyar. Wajar saja jika muncul
kekhawatiran, orang sebanyak itu nanti mau makan apa? Tinggal dimana?
Dan berbagai kekhawatiran lainnya. Apalagi secara logika bumi ini
tidak akan bertambah luas dan sumberdaya kian terbatas, sementara
orang yang menghuni terus bertambah. Semua bayangan negatif ini pada
akhirnya akan berujung pada kekhawatiran pada kondisi penduduk dunia
yang mengalami kemiskinan dan kesengsaraan.

Menurut saya, prediksi inilah yang menyimpulkan bahwa meningkatnya
jumlah penduduk akan menjadi ancaman atau malapetaka bagi kelangsungan
kesejahteraan dunia. Oleh karena itu muncullah berbagai upaya untuk
menghadapi masalah tersebut, baik ditingkat nasional maupun
internasional. Di Indonesia sendiri sejak era orde baru telah dibentuk
BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang bertugas
menyelenggarakan penyuluhan, kampanye dan pelaksanaan KB (Keluarga
Berencana). Namun hingga kini upaya tersebut tidak membuahkan hasil,
jumlah penduduk tetap saja meningkat. Dan lagi-lagi ini yang dianggap
biang keladi kemerosotan ekonomi, kemiskinan global, kelaparan,
kerusakan lingkungan dan ketidak stabilan politik. Padahal jika
berbicara tentang kecukupan ekonomi, Negara Barat yang jumlah
penduduknya 20% inilah yang mengkonsumsi 81% dari semua apa yang
dihasilkan dunia, sedangkan 80% lainnya mengkonsumsi sisanya. Gaya
hidup yang boros dan pola konsumtif dari negara-negara majulah
penyebab yang sebenarnya atas meningkatnya pemakaian sumber daya di
dunia. Dengan sumber dayanya yang minim, mereka memasok bahkan
mengurasnya dari luar sehingga menyebabkan negara lainnya terus berada
dalam keadaan miskin. Oleh karena itu sebanyak apapun sumber daya yang
dimiliki dunia jika dikelola dengan sistem kapitalis seperti saat ini
maka kesejahteraan penduduk tidak akan pernah tercapai, kecuali hanya
segolongan yang memiliki kapital saja. Sehingga amat dangkal jika
memiliki anggapan bahwa sengsara dan sejahteranya manusia berdasarkan
dari banyak atau sedikitnya jumlah manusia.

Pada akhirnya dapat terbaca sesungguhnya pertambahan penduduk itu
ancaman bagi Negara Baratkah atau bagi dunia mayoritaskah? Dunia
mayoritas saat ini mengerucut pada populasi kaum muslim. Meningkatnya
penduduk jelas merupakan ancaman bagi para investor Amerika di
negara-negara itu yang akan menentang struktural kekuasaan global. Dan
bila pertumbuhan penduduk itu dibiarkan menjadi banyak dan berkualitas
sesungguhnya ini merupakan potensi kaum muslim, terlebih
negeri-negeri muslim kaya akan SDA. Maka akan sangat mudah bagi kaum
muslim untuk menggulingkan kekuasaan barat. Ini yang mereka anggap
sebagai ancaman, untuk itulah Barat berusaha menekan pertumbuhan
penduduk khususnya kaum muslim dengan berbagai upaya.
Wallahualam bishawab.

Jumat, 09 Juli 2010

PORNOGRAFI YANG DIKONDISIKAN

Rumor tersebarnya video porno “mirip” selebritis papan atas sungguh dahsyat dan hingga saat ini nyaris menyedot perhatian seluruh kalangan masyarakat.
Dari kalangan gedongan sampai pinggiran jalan,
dari perumahan mewah sampai perkampungan kumuh,
dari kalangan remaja hingga orang tua dan elit nasional.
Media yang meng-ekspose juga beragam, mulai dari media cetak sampai elektronik. Sehingga tidak aneh pemberitaannya menjadi santapan setiap hari. Tidak sulit bagi kalangan manapun yang ingin memperoleh video mesum amoral penebar dosa itu. Karena video tersebut sudah dipasarkan mulai DVD asli yang terbilang mahal hingga bajakan yang relatif murah sehingga mampu dijangkau oleh berbagai kalangan, termasuk siswa SD dan SMP. Atau bagi yang suka melanglangbuana di dunia maya dapat dengan mudah mendownlodnya di situs-situs tertentu. Hal inilah yang meresahkan masyarakat terutama bagi orang tua atau pendidik seperti saya yang mempunyai tanggung jawab terhadap moral anak bangsa. Karena pemberitaan yang begitu luas akan semakin menumbuhsuburkan perilaku seks bebas dan seks pranikah, juga mambangun kesan di masyarakat bahwa apa yang mereka lakukan sebagai sesuatu yang biasa.

Penyebaran video amoral dan suburnya perilaku seks bebas yang kian sulit dikendalikan ini, tentu tidak terlepas dari diterapkannya sistem sekularisme dan liberalisme di tengah masyarakat. Sekularisme yang menebarkan gaya hidup dengan caranya sendiri tanpa mau terikat dengan aturan dan nilai agama. Kita bisa melihatnya dalam KUHP, seseorang yang berhubungan di luar ikatan perkawinan tidak dianggap melakukan tindakan pidana selama dilakukan suka sama suka. Padahal jika mengacu pada aturan agama, tindakan tersebut terkategori zina yang harus dihukum, yaitu jika telah menikah dirajam hingga mati dan jika belum menikah dicambuk seratus kali. Hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku zina, selain untuk menghapus dosanya bertujuan pula memberi efek jera baik kepada pelaku juga khalayak masyarakat sehingga tidak ada keinginan untuk melakukannya. Dengan demikian perilaku seks bebas dapat diminimalisir bahkan tidak ada sama sekali. Selain sekularisme, adapun liberalisme yang menjunjung tinggi nafas kebebasan. Salah satu yang dijamin oleh negara adalah kebebasan berperilaku, wajar jika kebanyakan orang berpikir apapun boleh dilakukan selama tidak merugikan orang lain. Termasuk menjalin hubungan seks dengan siapa saja asal suka sama suka dan tidak mengganggu eksistensi orang lain.

Seperti kita ketahui bersama bahwa penyebaran video amoral kali ini bukanlah yang pertama dan sangat mungkin ini bukan yang terakhir. Sebab sistem yang ada ternyata tidak mampu menghentikannya, justru mengkondisikannya dengan memberi lampu hijau pada perzinaan. Empat poin kebebasan (berperilaku, hak milik, beragama dan berpendapat) yang dijamin oleh negara ini, jelas-jelas memberi peluang bagi setiap orang berbuat bebas tanpa batas selama tidak merugikan orang lain. Kasus demi kasus semakin menguak kebobrokan sistem sekularisme dan membuktikan ketidakmampuannya menyelesaikan problematika yang terjadi. Kini tinggal Islamlah satu-satunya muara kita, sebuah sistem yang dibangun atas landasan akidah islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Hanya islamlah yang mampu menghentikan segala bentuk kerusakan itu, karena Islam mempunyai aturan yang bisa menjamin terealisasinya manusia yang bermoral. Wallaha’lambi’ash-shawab.

Senin, 15 Februari 2010

Apa Jadinya Coba?

Sangking banyaknya folder dikepalaku hari inih, q mpe bingung mau mulai dari mana… tapi intinya q pengen nulis untuk meluapkan ezmotsi aku!!!

Berawal dari perasaan dongkol yang tak terbendung gara2 baca MU edisi terbaru bulan ini. Tentang sebuah kenyataan yang menyakitkan… Pokoke menyebalkanlah, ga bisa dipikirkan pake logika orang waras. Bener-bener GeJe mereka ituh. Kumpulan makhluk yang ga pernah puas membuat onar. Sampai kapan? Entahlah. Yang pasti titik kesabaranku sudah di ujung tanduk, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keseimbangannya karena ku tahu sabar itu ga ada batasnya. Mendadak aliran darah di ubun2ku memanas dan mendidih hingga 100 derajat celcius. (Haksss dasar LEBAYYATUNNISA!!) Halah kok jadi GeJe ginih…

Okelah langsung ke inti aja. Pusing juga aku jadinya…

Halaman 1…
Page cover

Halaman 2...
Salam redaksi

halaman 3…
Kudapati wajah sang nomor 1 di Indonesia, SBY. Ow co cwiiiit!
Tapi kok judulnya penguasa tak bernurani. O my God… ga kebayang dong kalo foto aku yang dipajang disitu trus dibawahnya tertulis mahasiswi tak bernurani!!!
SSst, kembali ke lap-top (ingat mr. tukul…) kenapa gitu ya qo sampai keluar statement2 yang mengusik hati sang penguasa? (bagus kalo terusik, lha ini malah lempeng2 aja). Gini lo, jadi pemerintah kita ini lagi mengusulkan kenaikan gaji pejabat tinggi & anggota DPR 20 %. Padahal sebelumnya para menteri sudah mendapat jatah mobil mewwwah seharga 1,3 M. truuuuuz belum lagi rencana pemugaran pagar istana = 22,5 M. truuuuuz rencana pembelian pesawat presiden pribadi dengan anggaran = 400-700 M. (Hwoalah, itu pake uang semua atau…)

Muncul pertanyaan : emang salah ya kalo mereka mau ini itu?

Hheeee tlong di ctrl+B kata2 ini “tentu tidak ada yang salah” JIKA… nah yang ini tolong di ctrl+U “jika semua itu diperoleh dengan cara yang halal, tidak menzolimi hak orang lain.” Tapi apa? Kemewahan itukan cuma dinikmati oleh segelintir pejabat negara, sementara rakyatnya (termasuk aku)? Hhump beasiswa ga cair2, sementara harga beras semakin mahal (terakhir pas beli 7ribu, ini harga Bandung ga tau klo yang di kalimantan, sulawesi, sumatera dan irian sana). Eleuh dasar ibu2, yang dikeluhin ga jauh2 dari persoalan dapur. Hohoho ga gitu juga sih, tapi kan secara umum emang gitu, dan faktanya emang bener. Rakyat banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Betul?

Jadi kalo dipikir2 pake logika orang waras nie… “kenapa sih anggaran untuk paket kemawahan itu ga dikurangin aja dan dialihkan untuk kepentingan rakyat umum? Atau minimal untuk rakyat yang membutuhkan… “ seperti akuw, butuh kosan yang mewah kaya penjara artalyta, butuh laptop yang bagus kaya punya pejabat DPR, butuh meja dan kursi belajar yang kaya dipake wakil rakyat untuk tidur disaat rapat, butuh kendaraan mewah kaya mobil pak menteri dan pejabat tinggi gitu biar kalo hujan gak kehujanan dan kalo panas gak kepanasan. Hummmp, enak kali ya….!

Stop it… Bangun dari mimpimu eny!!!

Asal kamu tau aja. Jangankan anggaran untuk kamu yang bisa makan 3-4 kali/hari, anggaran untuk orang miskin yang belum tentu makan setiap harin aja disunat qo. Untuk datanya sih ga apa2 ya akunya ngutip, menurut Sekjend Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Yuna Farhan, kenaikan gaji dan fasilitas yang diberikan kepada pejabat negara itu berimplikasi pada subsidi masyarakat miskin. Misalnya : belanja subsidi non energi berkurang 6,8 T, pangan 1,5 T, pupuk 3,7 T, benih 56 M, obat generik dihapuskan sejumlah 350 M. kemudian belanja sosial yang didalamnya terdapat Bos dan Jamkesmas di th 2010 dikurangi 8,3 T.

Saat disini suhu tubuhku baru mencapai 60 derajat celcius….

Aku menghela napas panjang, merenungi apa yang telah diperbuat oleh para penguasa, sang penanggungjawab kami di akhirat kelak….

Betul juga kalo dibilang pemimpin kita kehilangan nurani. Soalnya perasaan empati terhadap penderitaan rakyat itu sepertinya sudah mati. Bukan hanya dalam pengaturan anggaran. Tau kan saat ini sedang gonjang ganjing tersibukkan dengan urusan century, harga2 kebutuhan pokok jadi naik, eeeee taunya sang pemimpin malah sempat2nya mengeluarkan album lagu terbaru. Ckckck. (ah.. kamu mah bisanya Cuma menohok aja, jadi pemimpin itu ga semudah membalikkan telapak tangan). Hu euh betul betul betul, makanya kenapa salah seorang sahabat rasul aja ketika diamanahi untuk menjadi pemimpin negara kata yang terucap adalah Innalillahi wainnailaihi rajiun. Betapa mereka yang luar bisa aja mengakui bahwa menjadi kepala negara itu merupakan amanah yang sangat berat karena pertanggungjawabannya langsung di hadapan Allah SWT. Coba bandingin dong dengan yang sekarang… Jabatan kepala negara justru menjadi jabatan yang menggiurkan. Banyak pemanah yang mengincar dan ingin membidik kursinya! Apa gerangan yang membuat kursi itu terlihat sangat menarik?

Temukan jawabannya dari subjek dan objek yang bersangkutan. Sang pemimpin, sang pemanah, rakyat jelata (loh?) dan kursi. Hahahaha. Kegejeanku memasuki stadium akut sudah. Mata tinggal 5 watt, tandanya harus direhatkan. Untuk halaman 4 dst…. (yang bikin aliran darahku panasnya mencapai 100 derajat celcius) To be continued ya… di apa jadinya coba? part 2.

Minggu, 17 Januari 2010

PENJARA VIP BUAH KAPITALISME

“Yah wajarlah, dizaman kapitalis gini apa sih yang nggak bisa dibeli pake uang?” demikian respon teman saya ketika menyaksikan tayangan televisi yang memblow-up berita Artalyta suryani dalam penjaraku istanaku. Sebuah fakta yang membuat kami dongkol alias sebel saat menyaksikannya, bagaimana tidak? Seorang napi kasus suap enam miliar kok diperlakukan seperti putri raja. Enak banget, penjaranya aja gak kalah dengan hotel berbintang lima, ada sofa yang super empuk, kulkas, air conditioner (AC), televisi, HP, tempat karaoke, bahkan yang “katanya” napi bisa mendatangkan dokter spesialis perawatan kecantikan ke dalam penjaranya. “Bener-bener hukum yang aneh” pikirku. Rumah kost kami saja tidak semewah itu, bahkan jauh dan tidak ada apa-apanya dibanding penjara VIP Artalyta.

Benar kata teman saya, di zaman kapitalis semuanya bisa dibeli dengan uang termasuk hukum. Fasilitas-fasilitas yang diperoleh Artalyta dalam penjara VIPnya pasti tidak jauh dari uang dan kekuasaan. Barangkali Artalyta bukan orang pertama yang menikmatinya, banyak orang kaya lainnya bebas memilih ruangan penjara tergantung besarnya uang. Sungguh memprihatinkan, kasus demi kasus semakin membuka mata kita betapa bobroknya sistem peradilan dan hukum di Indonesia. Kapitalisme benar-benar telah mencangkeram tubuh penguasa kita, hukum yang katanya berperan sebagai penegak keadilan tapi justru berpaling dari keadilan. Akibatnya, sanksi yang harusnya membuat para napi jera tapi tidak berlaku bagi orang kaya. Bagi mereka asal uang sudah bicara penjara bisa disulap menjadi hotel berbintang lima sehingga tidak lagi menjadi tempat yang menakutkan dan membuat jera.

Lha kalau penjaranya aja bertafaf VIP dan bikin betah penghuninya, lantas apa efeknya? Berarti wajar dong tindakan kriminal di Indonesia semakin meningkat, karena sanksi yang diberikan tidak berefek apa-apa. Coba deh kalo sistem islam yang diterapkan, sepanjang sejarah penerapan islam selama 1300 tahun kasus kriminal yang terjadi hanya tidak lebih dari 200 kasus. luar biasa, karena sistem hukum dalam islam memiliki efek jera. Nah jadi harusnya penjara itu menyeramkan dan terisolasi sehingga membuat orang di dalamnya trauma dan tidak mau lagi masuk penjara. Dengan begitu mereka tidak berani lagi melakukan tindakan yang akan menghantarkannya ke penjara. Dan perlu digaris bawahi dalam pemberian sanksi harusnya tidak pandang buluh, baik itu pejabat atau petani, kaya atau miskin semuanya harus diberi hukuman yang sama sesuai dengan pelanggaran yang dilakukannya. Selain itu sistem sanksi dalam islam juga berfungsi sebagai penghapus dosa atas kejahatan yang dilakukan. Sehingga diakhirat kelak tidak akan di sanksi lagi oleh Allah SWT. Wallahualam bishawab.

Selasa, 05 Januari 2010

Konon keberhasilan adalah dampak dari ketaqwaan

Belajar dari seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai pemimpin yang bertakwa dan adil. Dalam kurun waktu 30 bulan, pemerintahannya mampu memberantas kemiskinan dan menjadikan rakyat hidup dalam kemewahan.
Yahya bin Said mengatakan, " Khalifah umar Abdul Aziz mengutusku untuk memungut zakat di Afrika. Akupun melaksanakan tugas itu dan kemudian aku mencari golongan fakir miskin untuk diberikan zakat, tetapi aku tidak dapat menemukan golongan tersebut. Sesungguhnya, Khalifah Umar Abdul Aziz telah menjadikan kami manusia yang kaya raya." Taqwa mendatangkan kesenangan kepada seseorang tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. (dikutip dari buku : Al-Quran for live excellence)

Subhanallah, sungguh orang yang bertaqwa adalah orang2 yang keberadaannya di dekat Allah. Orang yang selalu taat dan menjauhi kemaksiatan. sehingga wajar jika Allah mengabulkan doa2 orang yang bertakwa, sekalipun hal itu di luar logika manusia.

Kekhilafahan (pemerintahan Islam) yang dianggap utopis oleh mayoritas orang, pun bukan hal yang mustahil. karena Allah adalah sebaik-baik Penolong terhadap orang yang mau memperjuangkan dienNya dalam keadaan takwa. InsyaAllah...