Senin, 15 Februari 2010

Apa Jadinya Coba?

Sangking banyaknya folder dikepalaku hari inih, q mpe bingung mau mulai dari mana… tapi intinya q pengen nulis untuk meluapkan ezmotsi aku!!!

Berawal dari perasaan dongkol yang tak terbendung gara2 baca MU edisi terbaru bulan ini. Tentang sebuah kenyataan yang menyakitkan… Pokoke menyebalkanlah, ga bisa dipikirkan pake logika orang waras. Bener-bener GeJe mereka ituh. Kumpulan makhluk yang ga pernah puas membuat onar. Sampai kapan? Entahlah. Yang pasti titik kesabaranku sudah di ujung tanduk, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keseimbangannya karena ku tahu sabar itu ga ada batasnya. Mendadak aliran darah di ubun2ku memanas dan mendidih hingga 100 derajat celcius. (Haksss dasar LEBAYYATUNNISA!!) Halah kok jadi GeJe ginih…

Okelah langsung ke inti aja. Pusing juga aku jadinya…

Halaman 1…
Page cover

Halaman 2...
Salam redaksi

halaman 3…
Kudapati wajah sang nomor 1 di Indonesia, SBY. Ow co cwiiiit!
Tapi kok judulnya penguasa tak bernurani. O my God… ga kebayang dong kalo foto aku yang dipajang disitu trus dibawahnya tertulis mahasiswi tak bernurani!!!
SSst, kembali ke lap-top (ingat mr. tukul…) kenapa gitu ya qo sampai keluar statement2 yang mengusik hati sang penguasa? (bagus kalo terusik, lha ini malah lempeng2 aja). Gini lo, jadi pemerintah kita ini lagi mengusulkan kenaikan gaji pejabat tinggi & anggota DPR 20 %. Padahal sebelumnya para menteri sudah mendapat jatah mobil mewwwah seharga 1,3 M. truuuuuz belum lagi rencana pemugaran pagar istana = 22,5 M. truuuuuz rencana pembelian pesawat presiden pribadi dengan anggaran = 400-700 M. (Hwoalah, itu pake uang semua atau…)

Muncul pertanyaan : emang salah ya kalo mereka mau ini itu?

Hheeee tlong di ctrl+B kata2 ini “tentu tidak ada yang salah” JIKA… nah yang ini tolong di ctrl+U “jika semua itu diperoleh dengan cara yang halal, tidak menzolimi hak orang lain.” Tapi apa? Kemewahan itukan cuma dinikmati oleh segelintir pejabat negara, sementara rakyatnya (termasuk aku)? Hhump beasiswa ga cair2, sementara harga beras semakin mahal (terakhir pas beli 7ribu, ini harga Bandung ga tau klo yang di kalimantan, sulawesi, sumatera dan irian sana). Eleuh dasar ibu2, yang dikeluhin ga jauh2 dari persoalan dapur. Hohoho ga gitu juga sih, tapi kan secara umum emang gitu, dan faktanya emang bener. Rakyat banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Betul?

Jadi kalo dipikir2 pake logika orang waras nie… “kenapa sih anggaran untuk paket kemawahan itu ga dikurangin aja dan dialihkan untuk kepentingan rakyat umum? Atau minimal untuk rakyat yang membutuhkan… “ seperti akuw, butuh kosan yang mewah kaya penjara artalyta, butuh laptop yang bagus kaya punya pejabat DPR, butuh meja dan kursi belajar yang kaya dipake wakil rakyat untuk tidur disaat rapat, butuh kendaraan mewah kaya mobil pak menteri dan pejabat tinggi gitu biar kalo hujan gak kehujanan dan kalo panas gak kepanasan. Hummmp, enak kali ya….!

Stop it… Bangun dari mimpimu eny!!!

Asal kamu tau aja. Jangankan anggaran untuk kamu yang bisa makan 3-4 kali/hari, anggaran untuk orang miskin yang belum tentu makan setiap harin aja disunat qo. Untuk datanya sih ga apa2 ya akunya ngutip, menurut Sekjend Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Yuna Farhan, kenaikan gaji dan fasilitas yang diberikan kepada pejabat negara itu berimplikasi pada subsidi masyarakat miskin. Misalnya : belanja subsidi non energi berkurang 6,8 T, pangan 1,5 T, pupuk 3,7 T, benih 56 M, obat generik dihapuskan sejumlah 350 M. kemudian belanja sosial yang didalamnya terdapat Bos dan Jamkesmas di th 2010 dikurangi 8,3 T.

Saat disini suhu tubuhku baru mencapai 60 derajat celcius….

Aku menghela napas panjang, merenungi apa yang telah diperbuat oleh para penguasa, sang penanggungjawab kami di akhirat kelak….

Betul juga kalo dibilang pemimpin kita kehilangan nurani. Soalnya perasaan empati terhadap penderitaan rakyat itu sepertinya sudah mati. Bukan hanya dalam pengaturan anggaran. Tau kan saat ini sedang gonjang ganjing tersibukkan dengan urusan century, harga2 kebutuhan pokok jadi naik, eeeee taunya sang pemimpin malah sempat2nya mengeluarkan album lagu terbaru. Ckckck. (ah.. kamu mah bisanya Cuma menohok aja, jadi pemimpin itu ga semudah membalikkan telapak tangan). Hu euh betul betul betul, makanya kenapa salah seorang sahabat rasul aja ketika diamanahi untuk menjadi pemimpin negara kata yang terucap adalah Innalillahi wainnailaihi rajiun. Betapa mereka yang luar bisa aja mengakui bahwa menjadi kepala negara itu merupakan amanah yang sangat berat karena pertanggungjawabannya langsung di hadapan Allah SWT. Coba bandingin dong dengan yang sekarang… Jabatan kepala negara justru menjadi jabatan yang menggiurkan. Banyak pemanah yang mengincar dan ingin membidik kursinya! Apa gerangan yang membuat kursi itu terlihat sangat menarik?

Temukan jawabannya dari subjek dan objek yang bersangkutan. Sang pemimpin, sang pemanah, rakyat jelata (loh?) dan kursi. Hahahaha. Kegejeanku memasuki stadium akut sudah. Mata tinggal 5 watt, tandanya harus direhatkan. Untuk halaman 4 dst…. (yang bikin aliran darahku panasnya mencapai 100 derajat celcius) To be continued ya… di apa jadinya coba? part 2.

Minggu, 17 Januari 2010

PENJARA VIP BUAH KAPITALISME

“Yah wajarlah, dizaman kapitalis gini apa sih yang nggak bisa dibeli pake uang?” demikian respon teman saya ketika menyaksikan tayangan televisi yang memblow-up berita Artalyta suryani dalam penjaraku istanaku. Sebuah fakta yang membuat kami dongkol alias sebel saat menyaksikannya, bagaimana tidak? Seorang napi kasus suap enam miliar kok diperlakukan seperti putri raja. Enak banget, penjaranya aja gak kalah dengan hotel berbintang lima, ada sofa yang super empuk, kulkas, air conditioner (AC), televisi, HP, tempat karaoke, bahkan yang “katanya” napi bisa mendatangkan dokter spesialis perawatan kecantikan ke dalam penjaranya. “Bener-bener hukum yang aneh” pikirku. Rumah kost kami saja tidak semewah itu, bahkan jauh dan tidak ada apa-apanya dibanding penjara VIP Artalyta.

Benar kata teman saya, di zaman kapitalis semuanya bisa dibeli dengan uang termasuk hukum. Fasilitas-fasilitas yang diperoleh Artalyta dalam penjara VIPnya pasti tidak jauh dari uang dan kekuasaan. Barangkali Artalyta bukan orang pertama yang menikmatinya, banyak orang kaya lainnya bebas memilih ruangan penjara tergantung besarnya uang. Sungguh memprihatinkan, kasus demi kasus semakin membuka mata kita betapa bobroknya sistem peradilan dan hukum di Indonesia. Kapitalisme benar-benar telah mencangkeram tubuh penguasa kita, hukum yang katanya berperan sebagai penegak keadilan tapi justru berpaling dari keadilan. Akibatnya, sanksi yang harusnya membuat para napi jera tapi tidak berlaku bagi orang kaya. Bagi mereka asal uang sudah bicara penjara bisa disulap menjadi hotel berbintang lima sehingga tidak lagi menjadi tempat yang menakutkan dan membuat jera.

Lha kalau penjaranya aja bertafaf VIP dan bikin betah penghuninya, lantas apa efeknya? Berarti wajar dong tindakan kriminal di Indonesia semakin meningkat, karena sanksi yang diberikan tidak berefek apa-apa. Coba deh kalo sistem islam yang diterapkan, sepanjang sejarah penerapan islam selama 1300 tahun kasus kriminal yang terjadi hanya tidak lebih dari 200 kasus. luar biasa, karena sistem hukum dalam islam memiliki efek jera. Nah jadi harusnya penjara itu menyeramkan dan terisolasi sehingga membuat orang di dalamnya trauma dan tidak mau lagi masuk penjara. Dengan begitu mereka tidak berani lagi melakukan tindakan yang akan menghantarkannya ke penjara. Dan perlu digaris bawahi dalam pemberian sanksi harusnya tidak pandang buluh, baik itu pejabat atau petani, kaya atau miskin semuanya harus diberi hukuman yang sama sesuai dengan pelanggaran yang dilakukannya. Selain itu sistem sanksi dalam islam juga berfungsi sebagai penghapus dosa atas kejahatan yang dilakukan. Sehingga diakhirat kelak tidak akan di sanksi lagi oleh Allah SWT. Wallahualam bishawab.

Selasa, 05 Januari 2010

Konon keberhasilan adalah dampak dari ketaqwaan

Belajar dari seorang Khalifah Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai pemimpin yang bertakwa dan adil. Dalam kurun waktu 30 bulan, pemerintahannya mampu memberantas kemiskinan dan menjadikan rakyat hidup dalam kemewahan.
Yahya bin Said mengatakan, " Khalifah umar Abdul Aziz mengutusku untuk memungut zakat di Afrika. Akupun melaksanakan tugas itu dan kemudian aku mencari golongan fakir miskin untuk diberikan zakat, tetapi aku tidak dapat menemukan golongan tersebut. Sesungguhnya, Khalifah Umar Abdul Aziz telah menjadikan kami manusia yang kaya raya." Taqwa mendatangkan kesenangan kepada seseorang tidak hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. (dikutip dari buku : Al-Quran for live excellence)

Subhanallah, sungguh orang yang bertaqwa adalah orang2 yang keberadaannya di dekat Allah. Orang yang selalu taat dan menjauhi kemaksiatan. sehingga wajar jika Allah mengabulkan doa2 orang yang bertakwa, sekalipun hal itu di luar logika manusia.

Kekhilafahan (pemerintahan Islam) yang dianggap utopis oleh mayoritas orang, pun bukan hal yang mustahil. karena Allah adalah sebaik-baik Penolong terhadap orang yang mau memperjuangkan dienNya dalam keadaan takwa. InsyaAllah...

Jumat, 25 Desember 2009

Haram, Ikut Natal Bersama!

Apabila ahli ma’ruf bercampur dengan ahli munkar, tanpa mengingkari mereka, maka ahli ma’ruf itu sebagaimana halnya orang yang meridlai dan terpengaruh dengan kemunkaran itu.

Setiap bulan Desember umat Islam selalu dihadapkan fitnah yan bisa mengancam aqidahnya. Dengan dalih toleransi dan kerukunan beragama, umat Islam diseret turut serta terlibat dalam perayaan Natal bersama. Bahkan seolah menjadi ritual wajib, pejabat yang menduduki jabatan publik harus ikut hadir. Ironisnya, ada saja di antara tokoh umat yang menyerukan kebolehan terlibat dalam perayaan Natal. Bahkan beberapa tahun lalu, ketua sebuah ormas Islam mempersilakan semua fasilitas organisasinya minus masjid digunakan sebagai perayaan Natal.

Haram Terlibat dalam Perayaan Kufur

Bagi kaum Muslim seharusnya senantiasa mengikatkan dirinya dengan hukum syara’. Dan hukum syara’ mengenai persoalan tersebut sesungguhnya telah jelas: haram. Kaum muslim diharamkan melibatkan diri di dalam perayaan hari raya orang-orang kafir, apapun bentuknya. Melibatkan diri di sini mencakup aktivitas: mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya. Sedangkan perayaan hari raya orang kafir di sini mencakup seluruh perayaan hari raya, perayaan orang suci mereka, dan semua hal yang berkaitan dengan hari perayaan orang-orang kafir (musyrik maupun ahlul kitab).

Ketentuan tersebut didasarkan pada firman Allah swt: al-ladzîna lâ yasyhadûna al-zûr (QS al-Furqan [25]: 72). Ayat ini menjelaskan tentang salah satu dari sifat ‘ibâd al-Rahmân. Menurut sebagian besar mufassir, makna kata al-zûr (kepalsuan) di sini adalah syirik. Demikian papar al-Syaukani dalam kitab tafsirnay, Fath al-Qadîr.. Ibnu Katsir dalam tafsirnya Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm menyitir pendapat beberapa mufassir seperti Abu ‘Aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, al-Dhahhak, al-Rabi’ bin Anas, dan lainnya, memaknai al-zûr di sini adalah hari raya kaum Musyrik. Lebih luas, Amru bin Qays menafsirkannya sebagai majelis-majelis yang buruk dan kotor.

Sedangkan kata lâ yasyhadûna, menurut jumhur ulama’ bermakna lâ yahdhurûna al-zûr, tidak menghadirinya. Demikian penjelasan al-Syaukani dalam Fath al-Qadîr. Memang ada yang memahami ayat ini berkenaan dengan pemberian kesaksian palsu (syahâdah al-zûr) yang di dalam Hadits Shahih dikategorikan sebagai dosa besar. Akan tetapi, dari konteks kalimatnya, lebih tepat jika dimaknai lâ yahdhurûnahu, tidak menghadirinya. Sebab, dalam frasa berikutnya disebutkan: “Dan apabila mereka melewati (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya” (TQS al-Furqan [25]: 72).

Dengan demikian, keseluruhan ayat ini memberikan pengertian bahwa mereka tidak menghadiri al-zûr. Dan jika mereka melewatinya, maka mereka segera melaluinya, dan tidak mau terkotori sedikit pun olehnya (lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, juz 3, hal. 1346).

Berdasarkan ayat ini pula, banyak fuqaha’ yang menyatakan haramnya menghadiri menghadiri perayaan hari raya kaum kafir. Ibnu Taimiyyah menyitir penjelasan beberapa ulama terkemuka mengenai persoalan ini. Ahmad bin Hanbal berkata: “Kaum Muslim telah diharamkan untuk merayakan hari raya orang-orang Yahudi dan Nasrani.“ (lihat Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm, hal.201). Imam Baihaqi menyatakan, “Jika kaum Muslim diharamkan memasuki gereja, apalagi merayakan hari raya mereka.” (lihat Iqtidhâ’ al-Shirâth al-Mustaqîm, hal.201).

Sedangkan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Ahkâm Ahl al-Dzimmah menyitir penjelasan yang dikemukakan Abu al-Qasim al-Thabari. Beliau berkata, “Tidak diperbolehkan bagi kaum Muslim menghadiri hari raya mereka karena mereka berada dalam kemunkaran dan kedustaan (zawr). Apabila ahli ma’ruf bercampur dengan ahli munkar, tanpa mengingkari mereka, maka ahli ma’ruf itu sebagaimana halnya orang yang meridlai dan terpengaruh dengan kemunkaran itu. Maka kita takut akan turunnya murka Allah atas jama’ah mereka, yang meliputi secara umum. Kita berlindung kepada Allah dari murka-Nya, juz 1. hal. 235).

Pada masa-masa kejayaan Islam, pemerintahan Islam saat itu –sejak masa Rasulullah SAW –, kaum muslim tidak diperbolehkan merayakan hari raya ahlul Kitab dan kaum musyrik. Dari Anas ra bahwa ketika Rasulullah SAW datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari raya yang mereka rayakan, beliau pun bersabda: “Sungguh Allah swt telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idul Adha dan idul Adha.” (HR. Abu Dawud dan al-Nasa’i dengan sanad yang shahih).

Pada masa pemerintahan Khalifah ‘Umar bin al-Khaththab, beliau juga telah melarang kaum Muslim merayakan hari raya orang-orang kafir. Imam Baihaqiy telah menuturkan sebuah riwayat dengan sanad shahih dari ‘Atha’ bin Dinar, bahwa Umar ra pernah berkata, “Janganlah kalian menmempelajari bahasa-bahasa orang-orang Ajam. Janganlah kalian memasuki kaum Musyrik di gereja-gereja pada hari raya mereka. Sesungguhnya murka Allah SWT akan turun kepada mereka pada hari itu.” (HR. Baihaqi). Beliau juga mengatakan: “Jauhilah musuh-musuh Allah pada di hari raya mereka.”

Jelaslah, Islam telah melarang umatnya melibatkan diri di dalam perayaan hari raya orang-orang kafir, apapun bentuknya. Melibatkan diri di sini mencakup perbuatan; mengucapkan selamat, hadir di jalan-jalan untuk menyaksikan atau melihat perayaan orang kafir, mengirim kartu selamat, dan lain sebagainya. Adapun perayaan hari raya orang kafir di sini mencakup seluruh perayaan hari raya, perayaan orang suci mereka, dan semua hal yang berkaitan dengan hari perayaan orang-orang kafir (musyrik maupun ahlul kitab).

Melenyapkan Syubhat

Di antara ayat sering digunakan untuk melegitimasi bolehnya mengucapkan selamat natal adalah firman Allah Swt: “Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali” (TQS Maryam [19]: 33).

Ayat ini sama sekali tidak menunjukkan kebolehan mengucapkan selamat natal kepada kaum Nasrani. Di dalam ayat ini memang disebutkan tentang keselamatan pada hari kelahiran Isa. Akan tetapi, itu memberitakan keselamatan Nabi Isa ketika beliau dilahirkan, diwafatkan dan dibangkitkan. Tidak ada kaitannya dengan ucapan selamat Natal. Sebab, Natal adalah perayaan dalam rangka memperingati kelahiran Yesus di Bethlehem. Sejak abad keempat Masehi, pesta atau perayaan natal ditetapkan tanggal 25 Desember, menggantikan perayaan Natalis Solis Invioti (kelahiran matahari yang yang tak terkalahkan).

Telah maklum, bahwa keyakinan Nasrani terhadap Isa as –yang mereka sebut Yesus– adalah sebagai Tuhan. Dan keyakinan ini menjadi salah satu penyebab kekufuran mereka. Banyak sekali ayat menegaskan hal ini, seperti firman QS al-Maidah [5]: 72, QS al-Maidah [5]: 73-74).

Bertolak dari fakta tersebut, perayaan Natal yang merayakan ‘kelahiran Tuhan’ merupakan sebuah kemunkaran besar. Sikap yang seharusnya dilakukan kaum Muslim terhadap pelakunya adalah menjelaskan kesesatan mereka dan mengajak mereka ke jalan yang benar, Islam. Bukan malah mengucapkan selamat terhadap mereka. Tindakan tersebut dapat dimaknai sebagai sikap ridha dan cenderung terhadap kemunkaran besar yang mereka lakukan. Padahal Allah Swt berfirman:“Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolong pun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.” (TQS Hud [11]: 113).

Menurut Abu al-Aliyah, makna kata al-rukûn adalah ridla. Artinya ridla terhadap perbuatan orang-orang zhalim. Ibnu Abbas memaknainya al-mayl (cenderung). Sedangkan menurut al-Zamakhsyari, al-rukûn tak sekadar al-mayl, namun al-mayl al-yasîr (kecenderungan ringan). Ini berarti, setiap Muslim wajib membebaskan dirinya dari kezahliman. Bukan hanya dalam praktik, namun sekadar kecenderungan sedikit saja sudah tidak diperbolehkan.

Jelaslah, haram hukumnya kaum Muslim terlibat dalam perayaan hari raya kaum kaum kafir, baik Musyrik maupun Ahli Kitab. Wal-Lâh a’lam bi al-Shawâb. (Abu Burhan dan Abu Said)

Rabu, 23 Desember 2009

Ibu ibu ibu

Seperti yang kita ketahui tanggal 22 Desember dinobatkan sebagai hari ibu, tak heran di berbagai acara stasiun TV, surat kabar dan media2 lainnya banyak yang membahas tentang kemuliaan seorang i-b-u. Sepulang KKL saya perhatikan banyak siswa mulai dari SD sampai SMA berebutan membeli bunga. Kali ini dugaan saya bunga2 itu pasti bukan untuk pacar melainkan buat sang ibunda.

Tidak ada yang salah dengan kemuliaan seorang Ibu. Islam, sejak keberadaannya dan sejak dibawa oleh Rasulullah, telah meletakkan posisi seorang ibu sangat tinggi. Ibu, ibu, ibu, baru kemudianlah seorang ayah, yang wajib dihormati oleh seorang anak, begitu hadist Rasulullah saw yang sudah terkenal. Pemuliaan kepada seorang ibu terjadi setiap waktu, bukan hanya satu hari saja.

Tentu jika sekarang ada Hari Ibu, maka ada sesauatu yang lain di sana. Hari Ibu adalah hari peringatan/ perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anaknya, maupun lingkungan sosialnya. Peringatan dan perayaan biasanya dilakukan dengan membebas-tugaskankan ibu dari tugas domestik yang sehari-hari dianggap merupakan kewajibannya, seperti memasak, merawat anak, dan urusan rumah tangga lainnya. Dan Hari Ibu dilaksanakan di seluruh dunia dengan nama Mother’s Day dengan berbeda-beda tanggalnya.

Menurut Wikipedia, Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropa dan Timur Tengah, mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Maret. Di Amerika Serikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hongkong, peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei karena pada tanggal itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara.

Jadi di sini, Hari Ibu bisa jadi kedudukannya sama dengan Hari Valentine, April Mop, Tahun Baru Masehi, Hari Bumi dan hari-hari lainnya yang bermuara pada kepercayaan pagan Yunani. Merayakannya sama saja dengan mengakui adanya kebiasaan-kebiasaan ritual itu.

Mungkin ada pembenaran; yah, nggak apa-apalah, dalam satu hari, seorang ibu libur dulu dari tugas-tugas rutinnya. Ibnu Umar ra berkata, Sabda Rasulullah saw bersabda: "Wanita yang tinggal di rumah bersama anak-anaknya, akan tinggal bersama-samaku dalam surga." Artinya, tidak ada berhenti atau cuti ketika sudah menjadi ibu—posisi yang sangat mulia dalam kehidupan. Adapun beban pekerjaan, bukankah Islam telah mengatur sedemikian rupa pendelegasian dengan suami hingga semua tugas dibagi rata antara suami dan istri?

Hadist di atas bukannya mengekang seorang perempuan atau seorang ibu. Kita tentu ingat bahwa Rasul juga membuka wilayah social untuk para muslimah ketika itu. Ada banyak kisah yang menceritakan keterlibatan para ummat dalam dakwah Rasulullah, termasuk peperangan.

Lantas, dimanakah posisi lelaki? Mungkin satu hadist ini bisa menjadi petunjuk dari berbagai posisi lelaki dan perempuan dalam Islam, "Satu dinar yang kamu belanjakan ke jalan Allah, satu dinar yang kamu belanjakan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang kamu sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang kamu belanjakan untuk kepentingan keluarga, yang paling besar pahalanya adalah yang kamu" belanjakan untuk kepentingan keluarga."(HR Muslim).

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: ‘Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)’. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (sa/berbagaisumber)

Selasa, 01 Desember 2009

Surat untuk Saudaraku,



Dunia di ambang kehancuran, ketika HIV-AIDS telah mencengkeram generasi penerus bangsa. Ketika bayi-bayi tak berdosa meregang nyawa di meja aborsi. Tidakkah kita peduli?

Saudaraku...
Tahukah HIV-AIDS benar2 mencengkeram dunia? bahkan telah menyentuh seluruh kabupaten dan kota di Indonesia ini. Tahukah kita bahwa kasus AIDS terbanyak ternyata terjadi di kota Bandung, tempat tinggal kita ini.

Saudaraku...
Tahukah kita, pelaku seks pranikah pada tahun 2008 naik menjadi 62,7% yaitu sekitar 26,23 juta remaja telah melakukan seks bebas (hasil penelitian KPA di 33 propinsi, 2008). Bahkan lebih menyesakkan dada ternyata 25% atau 7 juta remaja yang melakukan seks pranikah dan hamil ternyata memilih aborsi (survey KPA 2008). Apakah kita tidak miris ternyata 400.000 bayi2 tak berdosa di Jabar ini diaborsi oleh orang tuanya? (Harian Sindi, 9 April 2009).

Akankah kita diam menyaksikan semua itu???
menyaksikan generasi kita terjerumus dalam dosa, padahal kita mampu mangubahnya???
Akankah kita abai dengan sabda Rasulullah saw;
" Tidaklah kekejian (perzinahan) muncul pada suatu kaum dan mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali akan muncul berbagai wabah dan berbagai penyakit yang belum pernah terjadi pada orang-orang sebelum mereka..." (HR> Ibnu Majah).

Saudaraku...
apa jadinya kita kelak di yaumil hisab, jawaban apa yang akan kita berikan kepada Yang Maha Kuasa atas diam dan abainya kita terhada kondisi generasi kita... kondisi kaum muslimin.
Lantas balasan apa yang akan kita terima dari Allah Al-Muntaqim Yang Maha Pemberi Siksa, terlebih lagi kondisi tersebut terjadi akibat diabaikan dan dilanggarnya aturan Allah SWT???

Saudaraku...
Saatnya kita sadar, saatnya kita peduli, saatnya kita kembali pada aturan Allah SWT dalam segala aspek kehidupan, saatnya kembali pada SYARIAT ISLAM DENGAN MENEGAKKAN DAULAH KHILAFAH ISLAMIYAH, tanpa kekerasan, dan ini satu-satunya cara untuk MENYELAMATKAN GENERASI DARI HIV AIDS DAN SEKS BEBAS.

Saudaramu,

Senin, 30 November 2009

Remaja Juga Bisa Berkorban (gaul islam)

Di senin pagi ini, tanggal 30 Nopember 2009 atau bertepatan dengan 13 Dzulhijjah 1430 H, kita masih merasakan suasana Idul Adha, kurban, dan tentunya hari Tasyrik. Apa itu hari Tasyrik? Singkatnya gini deh, hari Tasyrik itu adalah tanggal 11-13 Dzulhijjah. Pada hari-hari tersebut kaum muslimin mengagungkan Allah Swt., senantisa mengingat asmaNya seraya menghayatiNya sehingga mampu mempertajam rasa takwa kepadaNya. Soalnya pada jaman pra Islam, orang-orang yang telah selesai menjalankan ibadah haji, berkumpul di pasar ‘Ukaz dan di pasar-pasar lain. Di sana mereka saling menyombongkan kebesaran dan kehebatan orang tua dan nenek moyang mereka. Nah, tradisi or adat istiadat itu nggak dibenarkan dalam ajaran Islam.

Selain itu, pada hari Tasyrik ini juga disembelih hewan-hewan kurban semata sebagai wujud ketaatan dan sekaligus mengagungkan Allah Swt. Di hari Tasyrik pula para jamaah haji melakukan ritual melempar jumrah. Oya, karena hari Tasyrik berkaitan dengan hari raya Idul Adha, maka kaum muslimin diharamkan berpuasa. Ok? Sekarang kamu paham deh ya. Sip lah. Gitu dong, remaja cerdas ya ngerti syariat. Gejlig!

Bro en Sis, karena biasanya juga kalo hari raya Idul Adha identik dengan pelaksanaan ibadah kurban, maka jangan heran jika pada tanggal 10-13 Duzlhijjah para tukang sate siap-siap aja omzetnya turun. Hehehe.. karena pada empat hari itu ngedadak banyak tukang sate jadi-jadian. Maklumlah, sebagian daging kurban yang dibagikan umumnya disate sama yang nerima jatah. Apalagi daging kambing, enak untuk disate dan perlu. Jihahah… (tapi ati-ati bagi pengidap darah tinggi dan asam urat, lho. Hehehe..)

Tapi, tentu saja Idul Adha bukan cuma diingat dengan banyaknya sembelihan hewan kurban. Tetapi yang terpenting adalah pelajaran dari sikap berkorban yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim as. Beliau senantiasa memegang kebenaran dan hanya taat kepada Allah Swt. dan rela berkorban demi ketaatannya itu. Sebagaimana firman Allah Swt. (yang artinya): “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan)” (QS an-Nahl [16]: 120)

Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Sesungguhnya pada mereka itu (Ibrahim dan umatnya) ada teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang-orang yang mengharap (pahala) Allah dan (keselamatan pada) Hari Kemudian. Dan barangsiapa yang berpaling, maka sesungguhnya Allah, Dia-lah yang Maha kaya lagi Maha Terpuji.” (QS al-Mumtahanah [60]: 6)

Subhanallah, hebat nian pribadi Nabi Ibrahim as. Kita bisa mencontoh beliau dalam pengorbanan demi ketaatannya kepada Allah Swt. Masih ingat kan kisahnya tentang perintah Allah Swt. untuk menyembelih anaknya sendiri, yakni Nabi Ismail as sewaktu masih kecil? Masih ingat juga kan kisah beliau yang meninggalkan istrinya, Hajar dan anaknya, Ismail? Kalo bukan karena perintah Allah Swt., Nabi Ibrahim tidak akan melakukannya. Hebat pengorbanan dan ketaatan beliau kepada Allah Swt.

Kita bagaimana? Ah, nggak tahu deh, kayaknya pengorbanan kita belum banyak. Kualitasnya pun belum sebanding dengan apa yang dilakukan Nabi Ibrahim as, dan juga para rasul lainnya. Pengorbanan kita juga belum seberapa jika dibandingkan dengan pengorbanan nabi kita, Muhammad saw. Kita bisa ngukur diri sendiri deh. Duh, jadi malu banget.

Belajar berkorban

Bro en Sis, manfaat belajar itu banyak lho. Kalo kita belajar, maka ada tiga aspek yang sekaligus bisa kita raih jika belajarnya bener. Pertama, dapetin aspek kognitif alias ilmu pengetahuan. Tadinya tidak tahu jadi tahu. Iya dong, kadang semalas-malasnya kita belajar, tetap akan dapetin ilmu pengetahuan. Sekecil apapun itu. Tentu aja kalo serius belajarnya jadi makin banyak ilmu yang didapat. Kedua, dapetin aspek afektif alias perasaan atau emosional. Bener lho, tadinya kita nggak mau jadi mau. Kita nggak mau ngaji, setelah belajar jadi mau ngaji. Atau sebaliknya, kita yang biasanya berani maksiat, setelah belajar jadi malu berbuat maksiat. Ketiga, aspek psikomotorik alias keterampilan. Sebelum belajar nggak bisa apa-apa, setelah belajar jadi bisa apa aja. Yup, tadinya nggak bisa, jadi bisa. Mau kan?

Jadi, berkorban pun perlu belajar. Supaya apa? Supaya tahu bagaimana caranya berkorban yang benar dan baik. Nah, dalam hal ini kita bisa berkorban dengan ketaatan atau kepatuhan kepada Allah Swt. Rela berkorban demi melaksanakan ajaran Islam. Sudi untuk mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, harta, atau bahkan nyawa demi tegaknya syariat Islam sebagai sarana untuk mendekatkan diri kita kepada Allah Swt. Dan, remaja juga bisa melakukannya, lho.

Pernah tahu kan beberapa sahabat nabi yang masih muda usia tapi ingin berjihad di jalan Allah Swt.? Yes, kamu kenal Abdullah Ibnu Umar? Nah, beliau ini patut kamu contoh dalam hidup kamu. Di usianya yang menginjak 13 tahun, sudah kebelet ingin ikut berjihad bersama Rasulullah saw. Beliau bersama sahabatnya yang bernama al-Barra’ ngotot ingin berperang bersama pasukan Rasulullah saw. dalam perang Badar. Namun oleh Rasulullah saw. ditolak karena masih kecil. Tahun berikutnya pada perang Uhud, beliau tetap ditolak. Hanya al-Barra’ yang boleh ikut. Barulah keinginannya yang tak tertahankan itu terpenuhi pada saat perang Ahzab, Rasulullah saw. memasukkannya ke dalam pasukan kaum muslimin yang akan memerangi kaum musyrikin. Subhanallah, keren banget tuh! (Lihat Shahih Bukhari jilid VII, hlm. 226 dan 302).

Semangat seperti inilah yang saat ini sulit ditemukan dalam diri pemuda Islam seusia kamu. Kalau pun ada, itu hanya sedikit saja yang memilikinya. Jangankan untuk berjihad, dalam menuntut ilmu saja, kadangkala kamu udah bosan dan tak bersemangat. Sebaliknya, yang muncul justru semangat main-main atau jadi seleb dadakan di ajang audisi yang tersebar banyak saat ini, sebagian lagi malah menyalurkan hobi adu jotos. Eh, itu nggak semuanya sih, tapi kebanyakan! Sedih deh jadinya.

Ibnu Abbas ra. berkata: “Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus Allah, melainkan ia (dipilih) dari kalangan pemuda saja (yakni antara 30 – 40 tahun). Begitu pula tidak ada seorang ‘alim pun yang diberi ilmu, melainkan ia (hanya) dari kalangan pemuda saja. Kemudian Ibnu Abbas ra. membaca firman Allah Swt. dalam surat al-Anbiya ayat 60: “Mereka berkata: ‘Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim. (Tafsir Ibnu Katsir III, hlm. 183)

Bro en Sis, emang idealnya seorang pemuda atau remaja kudu memiliki semangat yang hebat. Sebabnya, salah satunya adalah fisik kamu yang masih kuat. Dalam sejarah, usia para pemuda Islam yang pertama mendapatkan pembinaan di Daarul Arqaam rata-rata sekitar 20 tahunan. Yang paling muda adalah Ali bin Abi Thalib, waktu itu usianya masih 8 tahun. Hampir sama dengan az-Zubair bin al-‘Awwam. Kemudian dalam pembinaan Rasul itu masih ada Ja’far bin Abi Thalib yang saat itu usianya 18 tahun. Usman bin ‘Affan, usia 20 tahun. Umar bin Khaththab sekitar 26 tahun dan Abu Bakar ash-Shidiq yang pada saat itu sudah berusia 37 tahun. Masih banyak lagi para sahabat yang semuanya masih relatif muda usia. Mereka bersemangat dalam mengikuti pembinaan Rasulullah saw. Sehingga akidah Islam yang ditanamkan Muhammad saw. mampu mengubah pola pikir mereka tentang kehidupan. Keren!

Ya, kita bisa belajar untuk berkorban demi Islam. Remaja saat ini pasti bisa juga lho. Wong, jaman baheula aja udah banyak remaja yang melakukannya. Kita saat ini bisa meneladani mereka dengan bulat dan utuh. Islam, memang mengajarkan agar umatnya mau taat kepada Allah Swt. dan RasulNya. Tentu saja, untuk taat perlu pengorbanan. Lihatlah sahabat nabi bernama Yasir dan Sumayah, yakni orang tua Amr bin Yasir. Mereka rela berkorban nyawa demi membela keimanannya kepada Allah Swt. Bilal bin Rabbah ra, tak gentar meski dijemur di terik matahari padang pasir dan tubuhnya ditindih batu besar. Ia rela mempertahankan akidahnya dan keimanannya kepada Allah Swt. Subhanallah!

Redam nafsu, gelorakan pengorbanan

Hawa nafsu, kalo diturutin bisa berabe dan bikin kita sengsara. Memang sih, sebagai manusia kita ingin hal yang enak-enak. Makan, misalnya. Kalo nggak inget temen atau saudara yang juga berhak memakan makanan itu, pengennya dilahap sampai habis tak bersisa dan perut kenyang. Tapi, karena ingat saudara atau teman, kita harus merelakan untuk berbagi, dan mengorbankan keinginan kita tersebut.

Hawa nafsu hampir selalu sukses menggoda manusia yang lemah iman. Menyeret mereka ke dalam ruang maksiat karena tidak mendapatkan petunjuk dari Allah Swt. Benarlah firman Allah Ta’ala (yang artinya): “Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS al-Qashash [28]: 50)

Dalam ayat lain, Allah Swt. berfirman (yang artinya): “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmuNya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?” (QS al-Jaatsiyah [45]: 23)

Bro en Sis, dari dua ayat ini sebenarnya udah cukup ngasih penjelasan bahwa orang yang lebih mementingkan hawa nafsunya bakalan rugi. Salah satunya ya karena tidak diberi petunjuk. Allah Swt. dengan ilmuNya tahu bahwa orang tersebut tidak mau menerima kebenaran. Coba deh lihat, orang yang udah terbiasa maksiat kok kayaknya susah banget jadi baik. Meskipun berulang kali disampaikan teguran dan nasihat kepadanya. Itu karena bisa jadi dalam hatinya tak berniat untuk mencari kebenaran. Malah sebaliknya, betah bermaksiat karena lebih mementingkan hawa nafsu.

Hawa nafsu, adalah bagian yang perlu dikelola dengan benar. Memang, kita harus menyadari juga bahwa hawa nafsu nggak bisa dimatikan. Hawa nafsu hanya bisa diredam atau dikendalikan. Tentu saja, diredam atau dikendalikan dengan ajaran Islam. Bukan yang lain. Why? Karena hanya Allah Swt. yang tahu betul karakter manusia. Itu sebabnya, permintaan Allah Swt. kepada manusia agar manusia taat kepadaNya, justru untuk keselamatan manusia itu sendiri. Untuk bisa meredam nafsu, tentu saja diperlukan pengorbanan untuk meninggalkan hal-hal yang menurut hawa nafsu sangat enak dan nikmat jika dilakukan.

Aktivitas belajar misalnya, bila ngikutin hawa nafsu, malasnya minta ampun. Tapi, orang yang bisa mengalahkan hawa nafsu, belajar menjadi asik-asik saja, bahkan ketagihan. Ada contoh lain? Ada. Berzina. Jika mengikuti hawa nafsu kayaknya enak benar. Tapi, hawa nafsu untuk menyalurkan birahi itu harus diredam dan nanti disalurkannya di jalur yang halal, yakni melalui pernikahan. Untuk bisa menghindari malas belajar dan menjauhi berzina, kita perlu berkorban banyak. Bisa waktu (gunakan waktu untuk ibadah, bukan untuk mendekati zina), tenaga (gunakan tenaga untuk kegiatan kaya manfaat dan halal, bukan kegiatan yang mendekati maksiat), pikiran (gunakan untuk belajar dan berpikir positif menurut syariat, jangan gunakan untuk pikiran yang negatif), perasaan (salurkan perasaan untuk kebaikan, bukan keburukan), dan juga harta (manfaatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., bukan untuk semakin menjauhkan dariNya). Ini memang cukup berat. Tetapi kamu rela berkorban demi kebaikan kan ya? Kamu harus bisa! Biar keren, gitu lho.

Yuk, kita mulai berkorban demi ketaatan kita kepada Allah Swt. Remaja pun bisa melakukannya kok. Asal kamu mau aja. Terus, dilakukan dengan serius dan dilandasi dengan iman yang kuat. Bagaimana memulainya? Belajar yang benar tentang Islam! Sebab, di sanalah kita akan menemukan banyak hikmah dan ilmu pengetahuan serta pelajaran berharga memaknai kehidupan, ibadah, pengorbanan, dakwah, perjuangan dan banyak lagi. Siap berkorban? Yes! (sumber : http://www.gaulislam.com)