Oleh Anung Umar
Ketika sedang membahas tentang permasalahan hukum menikahi seorang pezina, beberapa hari lalu di kelas, tiba-tiba dosen yang mengajar berkata (dalam bahasa Arab, yang artinya kurang lebih), “Zina itu aib, makanya ketika seseorang melakukan zina, jangan disebar luaskan berita tentang perbuatannya. Karena, kalau mendengar sekali, mungkin orang merasakan risih dengannya, akan tetapi kalau beritanya tersebar dan berulang-ulang, orang-orang pun akhirnya akan menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa. Makanya ada pepatah Arab yang berbunyi: ‘Bila sering terjadi kemaksiatan, maka sensitivitas (hati) pun berkurang. Dan bila sensitivitas berkurang, maka dikhawatirkan akan terjatuh pada kemaksiatan. “
Beliau juga berkata, “Dulu ketika saya baru menginjakkan kaki saya di negeri ini, melihat banyaknya wanita tabarruj (berhias untuk selain suami di muka umum), gelisah rasanya hati ini, tak kuat rasanya tinggal di sini. Karena di negeri saya, tak pernah saya melihat seorang wanita pun kecuali tertutup semua. Akan tetapi, setelah berlalu beberapa waktu di sini, perasaan itu mulai berkurang. Akhirnya timbul ‘toleransi’ sedikit demi sedikit, sampai akhirnya, yang saya lihat itu seakan-akan suatu yang biasa. Kalau dulu awal-awal di sini melihat wanita tabarruj saja, tidak betah, tapi sekarang, jangankan wanita tabarruj, melihat wanita ‘telanjang’ di jalan, pasar dan tempat publik lainnya pun seperti biasa saja. Saya jadi takut atas keimanan saya. Karena kalau rasa benci dan pengingkaran seseorang terhadap kemaksiatan berkurang dan terus berkurang, dikhawatirkan keimanannya akan hilang pula.”
Subhanallah! Meskipun engkau sebutkan borok-borok di negeri kami, saya tidak tersinggung, ustadz. Karena memang demikian adanya. Memang alangkah banyak kemaksiatan di negeri kami. Kami bisa “menikmatinya” di mana-mana: di TV, jalan, pasar, bis kota dan tempat-tempat lainnya. Kita dihadapkan dengan era di mana umbar aurat dan kemaksiatan dengan berbagai bentuknya merupakan suatu yang “lumrah” bahkan menjadi “tren”. Makin sempit dan ketat pakaian, maka makin “modern”, “gaul” dan “trendi”. Makin diumbar kecantikan, maka makin menampakkan “aura positif”. Sebaliknya, makin lebar pakaian, dan makin tertutup postur tubuh, maka makin “kuno”, “jadul” ,makin kembali ke “zaman unta.”
Dan yang dikhawatirkan, bila semua itu telah merajalela di mana-mana, maka orang yang “tak bersalah” pun akan merasakan getahnya. Kalau ia tidak berubah 100% menjadi barisan mereka, setidaknya, sedikit-banyak ia akan terwarnai dengan gaya hidup mereka. Wallahulmusta’an.
Kalau engkau takut, wahai ustadz, dengan keimanan yang ada pada dirimu, karena banyaknya kemaksiatan di sini, apalagi saya tentunya, yang lebih sedikit ilmu dan pengalamannya dibandingmu. Saya pun takut, jangan-jangan keimanan saya hampir menghilang. Bagaimana tidak, setiap hari disuguhi “panorama” orang-orang yang berpakaian “ala kadarnya”, “berpakaian tetapi telanjang” di jalan, di bis kota, seakan-akan tak ada “apa-apa” di hati saya. Saya tak merasakan gejolak darah yang mendidih, hati yang resah, dan badan yang bergetar ketika disajikan pemandangan seperti itu. Astaghfirullah, apakah sudah bebal hati ini? Sungguh, butuh kesabaran ekstra menjaga keimanan di zaman penuh fitnah ini!
Saya berdoa kepada kepada Allah, semoga terus memberikan taufik dan hidayah-Nya kepada saya agar bisa istiqomah dalam agama-Nya dan teguh dalam menjalankan syariat-Nya. Dan saya juga memohon kepada-Nya agar memenuhi hati ini dengan kecintaan dan ketaatan kepada-Nya dan juga kecemburuan terhadap agama-Nya serta kebencian terhadap segala pelanggaran terhadap syariat-Nya, hingga akhir hayat nanti, hingga malakul maut menghampiri. Amin..
Kamis, 11 November 2010
Sabtu, 06 November 2010
Kelakuan Densus 88 Makin NORAK, CHILDISH!!!
Emang sih ga diragukan kalau densus juga manusia, tapi kok ga yakin ya kalau hatinya itu masih berlabel ‘hati manusia’ yang punya peri kemanusiaan?? Berbekal senjata yang berisi peluru baja, mungkin mereka pikir gayanya itu sudah cukup gagah untuk menyandang gelar pahlawan negara anti teroris. Kemudian tanpa ragu mereka membidikkan senjata itu kepada orang – orang polos yang tidak tahu menahu duduk masalahnya. Dan ironisnya mereka ‘terlalu sering’ menjudge orang yang tidak tepat, bahkan bukan sekedar menjudge tapi parahnya menembak orang yang sebenarnya tidak berdaya melakukan perlawanan. Kelakuan densus semakin membabi buta dengan melontarkan berbagai tuduhan yang mengada – ada.
Di Medan, tersebutlah sebuah keluarga sederhana yang sedang berbaring di tempat tidur butut di rumah berdinding papan dan berlantai tanah. Tiba – tiba muncul segerombolan orang bersenjata. Tanpa babibu, secepat kilat peluru melesat tepat mengenai jantung sang suami. Tindakan tersebut didasari tuduhan atas keterlibatan kasus perampokan CIMB Niaga dan tudingan bahwa ada TNT dirumahnya. Namun setelah di usut, ternyata tuduhan tidak terbukti.
Di Belawan, Densus juga menangkap 2 orang pria yang dituduh terlibat dalam penyerangan Mapolsek Hamparan Perak. Mereka menjadi korban pemaksaan opini di hadapan kamera televisi bahwa di Gunung Sibayak ada pelatihan militer para teroris. Namun setelah diperiksa, inipun tidak terbukti. Karena kenyataannya mereka sedang ikut camping bersama 15 orang lainnya.
Kedua kasus di atas hanya merupakan contoh saja, nampak begitu arogannya sebuah lembaga kepolisian. Dan masih banyak kasus lain yang menunjukkan sikap brutalnya densus. Tak jarang merekapun menganiaya sasaran, menendang, menginjak-injak dan lain sebagainya.
Mungkin saat ini di mata masyarakat densus tidak lebih seperti anak – anak yang sedang membuat lelucon. Sewaktu – waktu menembak orang dengan tuduhan teroris seenak jidatnya. Tidak lama setelah itu diberitakan salah sasaran. Nah kalau tidak ditembak, pelakunya ditangkap, setelah diusut ternyata juga salah sasaran. Kemudian si korban dibebaskan tanpa melakukan klarifikasi atau meminta maaf serta rehabilitasi terhadap kekeliruan yang telah dilakukan.
Padahal logikanya, kalo densus itu mau nangkap teroris kenapa pelaku yang dicurigai tidak diinterogasi dulu? Diproses secara hukum supaya terungkap jaringan – jaringan yang sesungguhnya. Toh sejauh ini pelaku yang dituduh sebagai teroris itu ketika digrebeg hanya pasrah, tidak bisa membela diri menghadapi panasnya pelor aparat. Tapi kenapa densus berhasrat sekali mengeksekusi orang – orang tersebut tanpa membiarkannya memberi kesaksian terlebih dulu? Dan walhasil selalu berujung pada salah sasaran. Apakah tindakan seperti ini justru tidak menyalahi hukum dan HAM dengan melakukan extra judical killing?
Tapi alih – alih Densus dijerat aparat karena telah melanggar hukum dan HAM, yang ada keberadaannya semakin kuat dengan anggaran yang diusulkan oleh DPR untuk densus 88 sejumlah 60 Milyar pertahun. Padahal pemerintah hanya mengusulkan sebesar 9 milyar pertahun. Belum lagi pemerintah sedang mengajukan revisi UU Anti Terorisme dan UU Intelegen.
Rada mengesankan, dulu sebelum Gedung Kembar WTC runtuh sepertinya jarang terdengar gaung teroris. Tapi setelah kejadian itu, ‘teroris’ menjadi hantu yang begitu menakutkan bagi banyak negara. Termasuk Indonesia salah satunya. Sampai akhirnya dibentuklah Detasemen Khusus 88 Anti Teroris.
Berikut saya kutip dari media umat edisi 46 :
Anehnya ada hal yang tidak nyambung antara aksi dan motivasi. Kalaupun aksi terorisme dimaksudkan untuk melawan Amerika, nyatanya justru tidak ada instalasi penting AS di Indonesia yang jadi sasaran. Jubir HTI yakin bahwa terorisme yang selama ini terjadi adalah fabricated terrorism atau terorisme yang diciptakan.
Bagaimana bisa terjadi ? menurutnya ada lima langkah operasi intelijen yang harus di waspadai yang terangkum dalam 5i, yakni :
Infiltrasi
Radikalisasi
Provokasi
Aksi
Stigmatisasi
Infiltrasi ini dilakukan terhadap kelompok islam yang memiliki semangat perlawanan. Lalu radikalisasi dipompa untuk lebih bersemangat melawan. Adapun provokasi didorong untuk melakukan tindakan. Dan aksi digerakkan malakukan tindakan konkrit berupa penyerangan di sejumlah sasaran. Akhirnya dilakukan stigmatisasi sehingga tercipta stigma bahwa indonesia adalah sarang teroris, pelakunya kelompok fundamentalis dan mereka yang akan menegakkan islam secara kaffah.
Wallahualam bishawab.
Di Medan, tersebutlah sebuah keluarga sederhana yang sedang berbaring di tempat tidur butut di rumah berdinding papan dan berlantai tanah. Tiba – tiba muncul segerombolan orang bersenjata. Tanpa babibu, secepat kilat peluru melesat tepat mengenai jantung sang suami. Tindakan tersebut didasari tuduhan atas keterlibatan kasus perampokan CIMB Niaga dan tudingan bahwa ada TNT dirumahnya. Namun setelah di usut, ternyata tuduhan tidak terbukti.
Di Belawan, Densus juga menangkap 2 orang pria yang dituduh terlibat dalam penyerangan Mapolsek Hamparan Perak. Mereka menjadi korban pemaksaan opini di hadapan kamera televisi bahwa di Gunung Sibayak ada pelatihan militer para teroris. Namun setelah diperiksa, inipun tidak terbukti. Karena kenyataannya mereka sedang ikut camping bersama 15 orang lainnya.
Kedua kasus di atas hanya merupakan contoh saja, nampak begitu arogannya sebuah lembaga kepolisian. Dan masih banyak kasus lain yang menunjukkan sikap brutalnya densus. Tak jarang merekapun menganiaya sasaran, menendang, menginjak-injak dan lain sebagainya.
Mungkin saat ini di mata masyarakat densus tidak lebih seperti anak – anak yang sedang membuat lelucon. Sewaktu – waktu menembak orang dengan tuduhan teroris seenak jidatnya. Tidak lama setelah itu diberitakan salah sasaran. Nah kalau tidak ditembak, pelakunya ditangkap, setelah diusut ternyata juga salah sasaran. Kemudian si korban dibebaskan tanpa melakukan klarifikasi atau meminta maaf serta rehabilitasi terhadap kekeliruan yang telah dilakukan.
Padahal logikanya, kalo densus itu mau nangkap teroris kenapa pelaku yang dicurigai tidak diinterogasi dulu? Diproses secara hukum supaya terungkap jaringan – jaringan yang sesungguhnya. Toh sejauh ini pelaku yang dituduh sebagai teroris itu ketika digrebeg hanya pasrah, tidak bisa membela diri menghadapi panasnya pelor aparat. Tapi kenapa densus berhasrat sekali mengeksekusi orang – orang tersebut tanpa membiarkannya memberi kesaksian terlebih dulu? Dan walhasil selalu berujung pada salah sasaran. Apakah tindakan seperti ini justru tidak menyalahi hukum dan HAM dengan melakukan extra judical killing?
Tapi alih – alih Densus dijerat aparat karena telah melanggar hukum dan HAM, yang ada keberadaannya semakin kuat dengan anggaran yang diusulkan oleh DPR untuk densus 88 sejumlah 60 Milyar pertahun. Padahal pemerintah hanya mengusulkan sebesar 9 milyar pertahun. Belum lagi pemerintah sedang mengajukan revisi UU Anti Terorisme dan UU Intelegen.
Rada mengesankan, dulu sebelum Gedung Kembar WTC runtuh sepertinya jarang terdengar gaung teroris. Tapi setelah kejadian itu, ‘teroris’ menjadi hantu yang begitu menakutkan bagi banyak negara. Termasuk Indonesia salah satunya. Sampai akhirnya dibentuklah Detasemen Khusus 88 Anti Teroris.
Berikut saya kutip dari media umat edisi 46 :
Anehnya ada hal yang tidak nyambung antara aksi dan motivasi. Kalaupun aksi terorisme dimaksudkan untuk melawan Amerika, nyatanya justru tidak ada instalasi penting AS di Indonesia yang jadi sasaran. Jubir HTI yakin bahwa terorisme yang selama ini terjadi adalah fabricated terrorism atau terorisme yang diciptakan.
Bagaimana bisa terjadi ? menurutnya ada lima langkah operasi intelijen yang harus di waspadai yang terangkum dalam 5i, yakni :
Infiltrasi
Radikalisasi
Provokasi
Aksi
Stigmatisasi
Infiltrasi ini dilakukan terhadap kelompok islam yang memiliki semangat perlawanan. Lalu radikalisasi dipompa untuk lebih bersemangat melawan. Adapun provokasi didorong untuk melakukan tindakan. Dan aksi digerakkan malakukan tindakan konkrit berupa penyerangan di sejumlah sasaran. Akhirnya dilakukan stigmatisasi sehingga tercipta stigma bahwa indonesia adalah sarang teroris, pelakunya kelompok fundamentalis dan mereka yang akan menegakkan islam secara kaffah.
Wallahualam bishawab.
Sabtu, 30 Oktober 2010
Keseimbangan Antara Dakwah dan Kuliah
Bagaimana caranya untuk menyeimbangkan antara dakwah dan kuliah, agar aktifitas kuliah tetap baik dan kinerja dakwah tetap optimal. Barangkali ini pertanyaan yang sering kita temukan pada diri sebagian kader dakwah. Tidak bisa kita pungkiri ketika tugas utama kita sebagai mahasiswa adalah belajar, belajar yang rajin, dapat IPK yang bagus, dan lulus dengan waktu singkat. Mindset seperti itulah yang tertanam dalam diri kebanyakan mahasiswa. Akan tetapi, bagaimana dengan status kita sebagai kader dakwah, tentu saja tidak akan memikirkan diri kita sendiri karena umat membutuhkan bantuan kita. Selain itu, hal yang cukup sering dijumpai ketika aktifitas dakwah menjadi kambing hitam akibat menurunnya nilai akademis kader dakwah, seakan-akan aktifitas dakwahlah yang menyebabkan semuanya. Paradigma seperti ini harus diubah, kallau tidak akan menjadi benalu yang membahayakan. Oleh karena itu, perlu kita cari solusi bagaimana kuliah kita lancar, aktifitas dakwah pun tetap jalan. Berikut ini langkah-langkah yang perlu diperhatikan :
1. Life is about mindset.
Jargon ini tidak terbantahakan lagi. Ketika kita berpikir bahwa kita bisa berdakwah secara optimal dengan tetap mendapatkan nilai akademis yang memuaskan, maka insyaALLAH akan menjadi kenyataan, dibarengi dengan usaha yang maksimal tentunya.
2. Fokus pada apa yang dikerjakan.
Hal yang terberat adalah perjuangan mengendalikan diri sendiri, termasuk untuk fokus pada apa yang dihadapi. Contohnya, ketika kuliah ya fokus dengan pelajaran jangan berfikir tentang tanggung jawab dakwah. Begitu pula ketika dalam aktifitas dakwah jangan memikirkan persoalan kuliah.
3. Memperhatikan dan mencatat di kelas
4. Mengalokasikan waktu belajar setiap hari
5. Jangan menunda mengerjakan tugas, kuliah maupun dakwah
6. Alokasikan waktu kegiatan dengan tepat serta memilih tanggung jawab yang sesuai dengan kapasitas diri.
Insyaallah jika kita tetap istiqomah maka ALLAH akan menunjukkan jalanNya. Kinerja dakwah optimal dibarengi dengan nilai akdemis yang memuaskan. Sungguh meruakan kader dakwah yang ideal..
Wallahu alam bisshawab.
(Oleh Ramadhanil, BKLDK Undip)
1. Life is about mindset.
Jargon ini tidak terbantahakan lagi. Ketika kita berpikir bahwa kita bisa berdakwah secara optimal dengan tetap mendapatkan nilai akademis yang memuaskan, maka insyaALLAH akan menjadi kenyataan, dibarengi dengan usaha yang maksimal tentunya.
2. Fokus pada apa yang dikerjakan.
Hal yang terberat adalah perjuangan mengendalikan diri sendiri, termasuk untuk fokus pada apa yang dihadapi. Contohnya, ketika kuliah ya fokus dengan pelajaran jangan berfikir tentang tanggung jawab dakwah. Begitu pula ketika dalam aktifitas dakwah jangan memikirkan persoalan kuliah.
3. Memperhatikan dan mencatat di kelas
4. Mengalokasikan waktu belajar setiap hari
5. Jangan menunda mengerjakan tugas, kuliah maupun dakwah
6. Alokasikan waktu kegiatan dengan tepat serta memilih tanggung jawab yang sesuai dengan kapasitas diri.
Insyaallah jika kita tetap istiqomah maka ALLAH akan menunjukkan jalanNya. Kinerja dakwah optimal dibarengi dengan nilai akdemis yang memuaskan. Sungguh meruakan kader dakwah yang ideal..
Wallahu alam bisshawab.
(Oleh Ramadhanil, BKLDK Undip)
Refleksi Bencana
Innalillahi wa innailaihi rajiun…
Bumi kembali menggugat dengan bahasa guncangan yang datang silih berganti di negeri ini.
Benarlah firman Allah dalam QS. Ar-Rum:41 " Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”
Qs. Al Anfal:25 "…dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tdk hanya menimpa orang-orang dzalim saja diantara kamu. ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaNya “
Diperkuat pula dalam hadits Ahmad dan thabrani:
"Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia karena perbuatan orang tertentu sampai manusia melihat kemungkaran tersebut, tapi mereka tidak mengingkarinya. Maka Allah akan mengazab masyarakat dan orang-orang tadi”
Ya Rabb, ku yakini semua bencana yang kini tengah menyapa adalah curahan kasih sayangMu. Ungkapan yang memberi pelajaran begitu dalam dan berharga agar kami kembali pada jalan yang benar. Hanya saja kami yang sering tidak memahaminya. Kami saja yang lalai hingga terjadi kerusakan di muka bumi baik di laut ataupun darat. Kami yang mengaku sebagai pejuangMu pun belum optimal dalam mencegah ulah pembuat maksiat yakni orang-orang yang enggan menerapkan syariatMu.
Semua jenis kemaksiatan tampaknya telah menjamur, maka wajarlah jika Allah menimpakan bencana di negeri ini sebagai peringatan. Untuk itu tiada jalan lain kecuali perzinaan segera diberantas sampai ke akar-akarnya (bukan malah dilokalisasi dan dipelihara); ekonomi curang harus segera ditinggalkan (termasuk segala transaksi yang didasarkan pada ekonomi kapitalis seperti perbankan ribawi, bursa saham dan valas, utang luar negeri, privatisasi BUMN, dll); zakat harus segera ditunaikan; perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya tidak boleh dilanggar; dan hukum-hukum Allah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah harus segera diterapkan oleh negara.
Jika tidak, berarti kita sedang menantang datangnya musibah yang lebih dahsyat lagi. Tsumma naudzubillah…
Layaknya inilah yang membuat kita khawatir, karena azab bukan hanya ditimpakan pada pelaku maksiat, namun mereka yang tidak mengingkari kemaksiatan tersebut juga turut merasakan dampaknya. Apalagi yang ditunggu, sudah cukup peringatan – peringatan itu membuat kita bangun dari mimpi panjang. Orientasi duniawi yang begitu muluk seolah hidup hanya berujung pada tanah kuburan.
Padahal perjalanan belum berakhir saat nyawa meregang dari tubuh kita, justru saat itulah merupakan gerbang utama menuju kehidupan abadi. Masalahnya siapa yang tahu kapan diri ini menemui ajal, dan dalam kondisi seperti apa saat ajal menjemput. Ketika beribadahkah? Atau sedang melakukan aktivitas yang dilaknat Allah? Wallahua’lam.
Dan setelah itu masih ada gerbang – gerbang lain yang ‘mau tidak mau’ harus dilalui. Yaumil baats, yaumil mahsyar, yaumil mizan, dst..... Disini yang menjadi titik fokusnya, bagaimana agar kita mampu melaluinya dengan selamat? Yah,, satu – satunya penyelamat itu adalah amal yang kita bawa dari dunia. Para amal itu yang akan menjelma menjadi mutiara – mutiara penyelamat kita kelak. Inilah yang senantiasa diupayakan. Menjadikan setiap langkah, setiap detik dan setiap hembusan nafas bernilai amal ibadah di sisiNya. InsyaAllah, Allahumma Amiin…
Bumi kembali menggugat dengan bahasa guncangan yang datang silih berganti di negeri ini.
Benarlah firman Allah dalam QS. Ar-Rum:41 " Telah tampak kerusakan didarat dan dilaut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”
Qs. Al Anfal:25 "…dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tdk hanya menimpa orang-orang dzalim saja diantara kamu. ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaNya “
Diperkuat pula dalam hadits Ahmad dan thabrani:
"Sesungguhnya Allah tidak mengazab manusia karena perbuatan orang tertentu sampai manusia melihat kemungkaran tersebut, tapi mereka tidak mengingkarinya. Maka Allah akan mengazab masyarakat dan orang-orang tadi”
Ya Rabb, ku yakini semua bencana yang kini tengah menyapa adalah curahan kasih sayangMu. Ungkapan yang memberi pelajaran begitu dalam dan berharga agar kami kembali pada jalan yang benar. Hanya saja kami yang sering tidak memahaminya. Kami saja yang lalai hingga terjadi kerusakan di muka bumi baik di laut ataupun darat. Kami yang mengaku sebagai pejuangMu pun belum optimal dalam mencegah ulah pembuat maksiat yakni orang-orang yang enggan menerapkan syariatMu.
Semua jenis kemaksiatan tampaknya telah menjamur, maka wajarlah jika Allah menimpakan bencana di negeri ini sebagai peringatan. Untuk itu tiada jalan lain kecuali perzinaan segera diberantas sampai ke akar-akarnya (bukan malah dilokalisasi dan dipelihara); ekonomi curang harus segera ditinggalkan (termasuk segala transaksi yang didasarkan pada ekonomi kapitalis seperti perbankan ribawi, bursa saham dan valas, utang luar negeri, privatisasi BUMN, dll); zakat harus segera ditunaikan; perjanjian dengan Allah dan Rasul-Nya tidak boleh dilanggar; dan hukum-hukum Allah yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah harus segera diterapkan oleh negara.
Jika tidak, berarti kita sedang menantang datangnya musibah yang lebih dahsyat lagi. Tsumma naudzubillah…
Layaknya inilah yang membuat kita khawatir, karena azab bukan hanya ditimpakan pada pelaku maksiat, namun mereka yang tidak mengingkari kemaksiatan tersebut juga turut merasakan dampaknya. Apalagi yang ditunggu, sudah cukup peringatan – peringatan itu membuat kita bangun dari mimpi panjang. Orientasi duniawi yang begitu muluk seolah hidup hanya berujung pada tanah kuburan.
Padahal perjalanan belum berakhir saat nyawa meregang dari tubuh kita, justru saat itulah merupakan gerbang utama menuju kehidupan abadi. Masalahnya siapa yang tahu kapan diri ini menemui ajal, dan dalam kondisi seperti apa saat ajal menjemput. Ketika beribadahkah? Atau sedang melakukan aktivitas yang dilaknat Allah? Wallahua’lam.
Dan setelah itu masih ada gerbang – gerbang lain yang ‘mau tidak mau’ harus dilalui. Yaumil baats, yaumil mahsyar, yaumil mizan, dst..... Disini yang menjadi titik fokusnya, bagaimana agar kita mampu melaluinya dengan selamat? Yah,, satu – satunya penyelamat itu adalah amal yang kita bawa dari dunia. Para amal itu yang akan menjelma menjadi mutiara – mutiara penyelamat kita kelak. Inilah yang senantiasa diupayakan. Menjadikan setiap langkah, setiap detik dan setiap hembusan nafas bernilai amal ibadah di sisiNya. InsyaAllah, Allahumma Amiin…
Senin, 19 Juli 2010
LEDAKAN PENDUDUK, ANCAMAN BAGI SIAPA?
Demam kekhawatiran akan ledakan jumlah penduduk sedang menyerang tubuh
dunia. Termasuk didalamnya Indonesia juga merasa was-was akan
pertambahan penduduk yang semakin tidak terkendali. Terbukti dari
riset populasi global (2008) bahwa tingkat pertumbuhan penduduk
rata-rata mencapai 6 % pertahun. Dengan angka tersebut jika tidak ada
bencana alam secara demografi maka populasi dunia akan mencapai 9
milyar pada tahun 2050, ini berarti dalam jangka 40 tahun ke depan
dunia mengalami pertambahan penduduk sebanyak 2,3 milyar dari populasi
saat ini yang berkisar 6,7 milyar. Wajar saja jika muncul
kekhawatiran, orang sebanyak itu nanti mau makan apa? Tinggal dimana?
Dan berbagai kekhawatiran lainnya. Apalagi secara logika bumi ini
tidak akan bertambah luas dan sumberdaya kian terbatas, sementara
orang yang menghuni terus bertambah. Semua bayangan negatif ini pada
akhirnya akan berujung pada kekhawatiran pada kondisi penduduk dunia
yang mengalami kemiskinan dan kesengsaraan.
Menurut saya, prediksi inilah yang menyimpulkan bahwa meningkatnya
jumlah penduduk akan menjadi ancaman atau malapetaka bagi kelangsungan
kesejahteraan dunia. Oleh karena itu muncullah berbagai upaya untuk
menghadapi masalah tersebut, baik ditingkat nasional maupun
internasional. Di Indonesia sendiri sejak era orde baru telah dibentuk
BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang bertugas
menyelenggarakan penyuluhan, kampanye dan pelaksanaan KB (Keluarga
Berencana). Namun hingga kini upaya tersebut tidak membuahkan hasil,
jumlah penduduk tetap saja meningkat. Dan lagi-lagi ini yang dianggap
biang keladi kemerosotan ekonomi, kemiskinan global, kelaparan,
kerusakan lingkungan dan ketidak stabilan politik. Padahal jika
berbicara tentang kecukupan ekonomi, Negara Barat yang jumlah
penduduknya 20% inilah yang mengkonsumsi 81% dari semua apa yang
dihasilkan dunia, sedangkan 80% lainnya mengkonsumsi sisanya. Gaya
hidup yang boros dan pola konsumtif dari negara-negara majulah
penyebab yang sebenarnya atas meningkatnya pemakaian sumber daya di
dunia. Dengan sumber dayanya yang minim, mereka memasok bahkan
mengurasnya dari luar sehingga menyebabkan negara lainnya terus berada
dalam keadaan miskin. Oleh karena itu sebanyak apapun sumber daya yang
dimiliki dunia jika dikelola dengan sistem kapitalis seperti saat ini
maka kesejahteraan penduduk tidak akan pernah tercapai, kecuali hanya
segolongan yang memiliki kapital saja. Sehingga amat dangkal jika
memiliki anggapan bahwa sengsara dan sejahteranya manusia berdasarkan
dari banyak atau sedikitnya jumlah manusia.
Pada akhirnya dapat terbaca sesungguhnya pertambahan penduduk itu
ancaman bagi Negara Baratkah atau bagi dunia mayoritaskah? Dunia
mayoritas saat ini mengerucut pada populasi kaum muslim. Meningkatnya
penduduk jelas merupakan ancaman bagi para investor Amerika di
negara-negara itu yang akan menentang struktural kekuasaan global. Dan
bila pertumbuhan penduduk itu dibiarkan menjadi banyak dan berkualitas
sesungguhnya ini merupakan potensi kaum muslim, terlebih
negeri-negeri muslim kaya akan SDA. Maka akan sangat mudah bagi kaum
muslim untuk menggulingkan kekuasaan barat. Ini yang mereka anggap
sebagai ancaman, untuk itulah Barat berusaha menekan pertumbuhan
penduduk khususnya kaum muslim dengan berbagai upaya.
Wallahualam bishawab.
dunia. Termasuk didalamnya Indonesia juga merasa was-was akan
pertambahan penduduk yang semakin tidak terkendali. Terbukti dari
riset populasi global (2008) bahwa tingkat pertumbuhan penduduk
rata-rata mencapai 6 % pertahun. Dengan angka tersebut jika tidak ada
bencana alam secara demografi maka populasi dunia akan mencapai 9
milyar pada tahun 2050, ini berarti dalam jangka 40 tahun ke depan
dunia mengalami pertambahan penduduk sebanyak 2,3 milyar dari populasi
saat ini yang berkisar 6,7 milyar. Wajar saja jika muncul
kekhawatiran, orang sebanyak itu nanti mau makan apa? Tinggal dimana?
Dan berbagai kekhawatiran lainnya. Apalagi secara logika bumi ini
tidak akan bertambah luas dan sumberdaya kian terbatas, sementara
orang yang menghuni terus bertambah. Semua bayangan negatif ini pada
akhirnya akan berujung pada kekhawatiran pada kondisi penduduk dunia
yang mengalami kemiskinan dan kesengsaraan.
Menurut saya, prediksi inilah yang menyimpulkan bahwa meningkatnya
jumlah penduduk akan menjadi ancaman atau malapetaka bagi kelangsungan
kesejahteraan dunia. Oleh karena itu muncullah berbagai upaya untuk
menghadapi masalah tersebut, baik ditingkat nasional maupun
internasional. Di Indonesia sendiri sejak era orde baru telah dibentuk
BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) yang bertugas
menyelenggarakan penyuluhan, kampanye dan pelaksanaan KB (Keluarga
Berencana). Namun hingga kini upaya tersebut tidak membuahkan hasil,
jumlah penduduk tetap saja meningkat. Dan lagi-lagi ini yang dianggap
biang keladi kemerosotan ekonomi, kemiskinan global, kelaparan,
kerusakan lingkungan dan ketidak stabilan politik. Padahal jika
berbicara tentang kecukupan ekonomi, Negara Barat yang jumlah
penduduknya 20% inilah yang mengkonsumsi 81% dari semua apa yang
dihasilkan dunia, sedangkan 80% lainnya mengkonsumsi sisanya. Gaya
hidup yang boros dan pola konsumtif dari negara-negara majulah
penyebab yang sebenarnya atas meningkatnya pemakaian sumber daya di
dunia. Dengan sumber dayanya yang minim, mereka memasok bahkan
mengurasnya dari luar sehingga menyebabkan negara lainnya terus berada
dalam keadaan miskin. Oleh karena itu sebanyak apapun sumber daya yang
dimiliki dunia jika dikelola dengan sistem kapitalis seperti saat ini
maka kesejahteraan penduduk tidak akan pernah tercapai, kecuali hanya
segolongan yang memiliki kapital saja. Sehingga amat dangkal jika
memiliki anggapan bahwa sengsara dan sejahteranya manusia berdasarkan
dari banyak atau sedikitnya jumlah manusia.
Pada akhirnya dapat terbaca sesungguhnya pertambahan penduduk itu
ancaman bagi Negara Baratkah atau bagi dunia mayoritaskah? Dunia
mayoritas saat ini mengerucut pada populasi kaum muslim. Meningkatnya
penduduk jelas merupakan ancaman bagi para investor Amerika di
negara-negara itu yang akan menentang struktural kekuasaan global. Dan
bila pertumbuhan penduduk itu dibiarkan menjadi banyak dan berkualitas
sesungguhnya ini merupakan potensi kaum muslim, terlebih
negeri-negeri muslim kaya akan SDA. Maka akan sangat mudah bagi kaum
muslim untuk menggulingkan kekuasaan barat. Ini yang mereka anggap
sebagai ancaman, untuk itulah Barat berusaha menekan pertumbuhan
penduduk khususnya kaum muslim dengan berbagai upaya.
Wallahualam bishawab.
Jumat, 09 Juli 2010
PORNOGRAFI YANG DIKONDISIKAN
Rumor tersebarnya video porno “mirip” selebritis papan atas sungguh dahsyat dan hingga saat ini nyaris menyedot perhatian seluruh kalangan masyarakat.
Dari kalangan gedongan sampai pinggiran jalan,
dari perumahan mewah sampai perkampungan kumuh,
dari kalangan remaja hingga orang tua dan elit nasional.
Media yang meng-ekspose juga beragam, mulai dari media cetak sampai elektronik. Sehingga tidak aneh pemberitaannya menjadi santapan setiap hari. Tidak sulit bagi kalangan manapun yang ingin memperoleh video mesum amoral penebar dosa itu. Karena video tersebut sudah dipasarkan mulai DVD asli yang terbilang mahal hingga bajakan yang relatif murah sehingga mampu dijangkau oleh berbagai kalangan, termasuk siswa SD dan SMP. Atau bagi yang suka melanglangbuana di dunia maya dapat dengan mudah mendownlodnya di situs-situs tertentu. Hal inilah yang meresahkan masyarakat terutama bagi orang tua atau pendidik seperti saya yang mempunyai tanggung jawab terhadap moral anak bangsa. Karena pemberitaan yang begitu luas akan semakin menumbuhsuburkan perilaku seks bebas dan seks pranikah, juga mambangun kesan di masyarakat bahwa apa yang mereka lakukan sebagai sesuatu yang biasa.
Penyebaran video amoral dan suburnya perilaku seks bebas yang kian sulit dikendalikan ini, tentu tidak terlepas dari diterapkannya sistem sekularisme dan liberalisme di tengah masyarakat. Sekularisme yang menebarkan gaya hidup dengan caranya sendiri tanpa mau terikat dengan aturan dan nilai agama. Kita bisa melihatnya dalam KUHP, seseorang yang berhubungan di luar ikatan perkawinan tidak dianggap melakukan tindakan pidana selama dilakukan suka sama suka. Padahal jika mengacu pada aturan agama, tindakan tersebut terkategori zina yang harus dihukum, yaitu jika telah menikah dirajam hingga mati dan jika belum menikah dicambuk seratus kali. Hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku zina, selain untuk menghapus dosanya bertujuan pula memberi efek jera baik kepada pelaku juga khalayak masyarakat sehingga tidak ada keinginan untuk melakukannya. Dengan demikian perilaku seks bebas dapat diminimalisir bahkan tidak ada sama sekali. Selain sekularisme, adapun liberalisme yang menjunjung tinggi nafas kebebasan. Salah satu yang dijamin oleh negara adalah kebebasan berperilaku, wajar jika kebanyakan orang berpikir apapun boleh dilakukan selama tidak merugikan orang lain. Termasuk menjalin hubungan seks dengan siapa saja asal suka sama suka dan tidak mengganggu eksistensi orang lain.
Seperti kita ketahui bersama bahwa penyebaran video amoral kali ini bukanlah yang pertama dan sangat mungkin ini bukan yang terakhir. Sebab sistem yang ada ternyata tidak mampu menghentikannya, justru mengkondisikannya dengan memberi lampu hijau pada perzinaan. Empat poin kebebasan (berperilaku, hak milik, beragama dan berpendapat) yang dijamin oleh negara ini, jelas-jelas memberi peluang bagi setiap orang berbuat bebas tanpa batas selama tidak merugikan orang lain. Kasus demi kasus semakin menguak kebobrokan sistem sekularisme dan membuktikan ketidakmampuannya menyelesaikan problematika yang terjadi. Kini tinggal Islamlah satu-satunya muara kita, sebuah sistem yang dibangun atas landasan akidah islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Hanya islamlah yang mampu menghentikan segala bentuk kerusakan itu, karena Islam mempunyai aturan yang bisa menjamin terealisasinya manusia yang bermoral. Wallaha’lambi’ash-shawab.
Dari kalangan gedongan sampai pinggiran jalan,
dari perumahan mewah sampai perkampungan kumuh,
dari kalangan remaja hingga orang tua dan elit nasional.
Media yang meng-ekspose juga beragam, mulai dari media cetak sampai elektronik. Sehingga tidak aneh pemberitaannya menjadi santapan setiap hari. Tidak sulit bagi kalangan manapun yang ingin memperoleh video mesum amoral penebar dosa itu. Karena video tersebut sudah dipasarkan mulai DVD asli yang terbilang mahal hingga bajakan yang relatif murah sehingga mampu dijangkau oleh berbagai kalangan, termasuk siswa SD dan SMP. Atau bagi yang suka melanglangbuana di dunia maya dapat dengan mudah mendownlodnya di situs-situs tertentu. Hal inilah yang meresahkan masyarakat terutama bagi orang tua atau pendidik seperti saya yang mempunyai tanggung jawab terhadap moral anak bangsa. Karena pemberitaan yang begitu luas akan semakin menumbuhsuburkan perilaku seks bebas dan seks pranikah, juga mambangun kesan di masyarakat bahwa apa yang mereka lakukan sebagai sesuatu yang biasa.
Penyebaran video amoral dan suburnya perilaku seks bebas yang kian sulit dikendalikan ini, tentu tidak terlepas dari diterapkannya sistem sekularisme dan liberalisme di tengah masyarakat. Sekularisme yang menebarkan gaya hidup dengan caranya sendiri tanpa mau terikat dengan aturan dan nilai agama. Kita bisa melihatnya dalam KUHP, seseorang yang berhubungan di luar ikatan perkawinan tidak dianggap melakukan tindakan pidana selama dilakukan suka sama suka. Padahal jika mengacu pada aturan agama, tindakan tersebut terkategori zina yang harus dihukum, yaitu jika telah menikah dirajam hingga mati dan jika belum menikah dicambuk seratus kali. Hukuman yang dijatuhkan kepada pelaku zina, selain untuk menghapus dosanya bertujuan pula memberi efek jera baik kepada pelaku juga khalayak masyarakat sehingga tidak ada keinginan untuk melakukannya. Dengan demikian perilaku seks bebas dapat diminimalisir bahkan tidak ada sama sekali. Selain sekularisme, adapun liberalisme yang menjunjung tinggi nafas kebebasan. Salah satu yang dijamin oleh negara adalah kebebasan berperilaku, wajar jika kebanyakan orang berpikir apapun boleh dilakukan selama tidak merugikan orang lain. Termasuk menjalin hubungan seks dengan siapa saja asal suka sama suka dan tidak mengganggu eksistensi orang lain.
Seperti kita ketahui bersama bahwa penyebaran video amoral kali ini bukanlah yang pertama dan sangat mungkin ini bukan yang terakhir. Sebab sistem yang ada ternyata tidak mampu menghentikannya, justru mengkondisikannya dengan memberi lampu hijau pada perzinaan. Empat poin kebebasan (berperilaku, hak milik, beragama dan berpendapat) yang dijamin oleh negara ini, jelas-jelas memberi peluang bagi setiap orang berbuat bebas tanpa batas selama tidak merugikan orang lain. Kasus demi kasus semakin menguak kebobrokan sistem sekularisme dan membuktikan ketidakmampuannya menyelesaikan problematika yang terjadi. Kini tinggal Islamlah satu-satunya muara kita, sebuah sistem yang dibangun atas landasan akidah islam yang bersumber dari Al-Quran dan Hadits. Hanya islamlah yang mampu menghentikan segala bentuk kerusakan itu, karena Islam mempunyai aturan yang bisa menjamin terealisasinya manusia yang bermoral. Wallaha’lambi’ash-shawab.
Senin, 15 Februari 2010
Apa Jadinya Coba?
Sangking banyaknya folder dikepalaku hari inih, q mpe bingung mau mulai dari mana… tapi intinya q pengen nulis untuk meluapkan ezmotsi aku!!!
Berawal dari perasaan dongkol yang tak terbendung gara2 baca MU edisi terbaru bulan ini. Tentang sebuah kenyataan yang menyakitkan… Pokoke menyebalkanlah, ga bisa dipikirkan pake logika orang waras. Bener-bener GeJe mereka ituh. Kumpulan makhluk yang ga pernah puas membuat onar. Sampai kapan? Entahlah. Yang pasti titik kesabaranku sudah di ujung tanduk, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keseimbangannya karena ku tahu sabar itu ga ada batasnya. Mendadak aliran darah di ubun2ku memanas dan mendidih hingga 100 derajat celcius. (Haksss dasar LEBAYYATUNNISA!!) Halah kok jadi GeJe ginih…
Okelah langsung ke inti aja. Pusing juga aku jadinya…
Halaman 1…
Page cover
Halaman 2...
Salam redaksi
halaman 3…
Kudapati wajah sang nomor 1 di Indonesia, SBY. Ow co cwiiiit!
Tapi kok judulnya penguasa tak bernurani. O my God… ga kebayang dong kalo foto aku yang dipajang disitu trus dibawahnya tertulis mahasiswi tak bernurani!!!
SSst, kembali ke lap-top (ingat mr. tukul…) kenapa gitu ya qo sampai keluar statement2 yang mengusik hati sang penguasa? (bagus kalo terusik, lha ini malah lempeng2 aja). Gini lo, jadi pemerintah kita ini lagi mengusulkan kenaikan gaji pejabat tinggi & anggota DPR 20 %. Padahal sebelumnya para menteri sudah mendapat jatah mobil mewwwah seharga 1,3 M. truuuuuz belum lagi rencana pemugaran pagar istana = 22,5 M. truuuuuz rencana pembelian pesawat presiden pribadi dengan anggaran = 400-700 M. (Hwoalah, itu pake uang semua atau…)
Muncul pertanyaan : emang salah ya kalo mereka mau ini itu?
Hheeee tlong di ctrl+B kata2 ini “tentu tidak ada yang salah” JIKA… nah yang ini tolong di ctrl+U “jika semua itu diperoleh dengan cara yang halal, tidak menzolimi hak orang lain.” Tapi apa? Kemewahan itukan cuma dinikmati oleh segelintir pejabat negara, sementara rakyatnya (termasuk aku)? Hhump beasiswa ga cair2, sementara harga beras semakin mahal (terakhir pas beli 7ribu, ini harga Bandung ga tau klo yang di kalimantan, sulawesi, sumatera dan irian sana). Eleuh dasar ibu2, yang dikeluhin ga jauh2 dari persoalan dapur. Hohoho ga gitu juga sih, tapi kan secara umum emang gitu, dan faktanya emang bener. Rakyat banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Betul?
Jadi kalo dipikir2 pake logika orang waras nie… “kenapa sih anggaran untuk paket kemawahan itu ga dikurangin aja dan dialihkan untuk kepentingan rakyat umum? Atau minimal untuk rakyat yang membutuhkan… “ seperti akuw, butuh kosan yang mewah kaya penjara artalyta, butuh laptop yang bagus kaya punya pejabat DPR, butuh meja dan kursi belajar yang kaya dipake wakil rakyat untuk tidur disaat rapat, butuh kendaraan mewah kaya mobil pak menteri dan pejabat tinggi gitu biar kalo hujan gak kehujanan dan kalo panas gak kepanasan. Hummmp, enak kali ya….!
Stop it… Bangun dari mimpimu eny!!!
Asal kamu tau aja. Jangankan anggaran untuk kamu yang bisa makan 3-4 kali/hari, anggaran untuk orang miskin yang belum tentu makan setiap harin aja disunat qo. Untuk datanya sih ga apa2 ya akunya ngutip, menurut Sekjend Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Yuna Farhan, kenaikan gaji dan fasilitas yang diberikan kepada pejabat negara itu berimplikasi pada subsidi masyarakat miskin. Misalnya : belanja subsidi non energi berkurang 6,8 T, pangan 1,5 T, pupuk 3,7 T, benih 56 M, obat generik dihapuskan sejumlah 350 M. kemudian belanja sosial yang didalamnya terdapat Bos dan Jamkesmas di th 2010 dikurangi 8,3 T.
Saat disini suhu tubuhku baru mencapai 60 derajat celcius….
Aku menghela napas panjang, merenungi apa yang telah diperbuat oleh para penguasa, sang penanggungjawab kami di akhirat kelak….
Betul juga kalo dibilang pemimpin kita kehilangan nurani. Soalnya perasaan empati terhadap penderitaan rakyat itu sepertinya sudah mati. Bukan hanya dalam pengaturan anggaran. Tau kan saat ini sedang gonjang ganjing tersibukkan dengan urusan century, harga2 kebutuhan pokok jadi naik, eeeee taunya sang pemimpin malah sempat2nya mengeluarkan album lagu terbaru. Ckckck. (ah.. kamu mah bisanya Cuma menohok aja, jadi pemimpin itu ga semudah membalikkan telapak tangan). Hu euh betul betul betul, makanya kenapa salah seorang sahabat rasul aja ketika diamanahi untuk menjadi pemimpin negara kata yang terucap adalah Innalillahi wainnailaihi rajiun. Betapa mereka yang luar bisa aja mengakui bahwa menjadi kepala negara itu merupakan amanah yang sangat berat karena pertanggungjawabannya langsung di hadapan Allah SWT. Coba bandingin dong dengan yang sekarang… Jabatan kepala negara justru menjadi jabatan yang menggiurkan. Banyak pemanah yang mengincar dan ingin membidik kursinya! Apa gerangan yang membuat kursi itu terlihat sangat menarik?
Temukan jawabannya dari subjek dan objek yang bersangkutan. Sang pemimpin, sang pemanah, rakyat jelata (loh?) dan kursi. Hahahaha. Kegejeanku memasuki stadium akut sudah. Mata tinggal 5 watt, tandanya harus direhatkan. Untuk halaman 4 dst…. (yang bikin aliran darahku panasnya mencapai 100 derajat celcius) To be continued ya… di apa jadinya coba? part 2.
Berawal dari perasaan dongkol yang tak terbendung gara2 baca MU edisi terbaru bulan ini. Tentang sebuah kenyataan yang menyakitkan… Pokoke menyebalkanlah, ga bisa dipikirkan pake logika orang waras. Bener-bener GeJe mereka ituh. Kumpulan makhluk yang ga pernah puas membuat onar. Sampai kapan? Entahlah. Yang pasti titik kesabaranku sudah di ujung tanduk, tapi aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menjaga keseimbangannya karena ku tahu sabar itu ga ada batasnya. Mendadak aliran darah di ubun2ku memanas dan mendidih hingga 100 derajat celcius. (Haksss dasar LEBAYYATUNNISA!!) Halah kok jadi GeJe ginih…
Okelah langsung ke inti aja. Pusing juga aku jadinya…
Halaman 1…
Page cover
Halaman 2...
Salam redaksi
halaman 3…
Kudapati wajah sang nomor 1 di Indonesia, SBY. Ow co cwiiiit!
Tapi kok judulnya penguasa tak bernurani. O my God… ga kebayang dong kalo foto aku yang dipajang disitu trus dibawahnya tertulis mahasiswi tak bernurani!!!
SSst, kembali ke lap-top (ingat mr. tukul…) kenapa gitu ya qo sampai keluar statement2 yang mengusik hati sang penguasa? (bagus kalo terusik, lha ini malah lempeng2 aja). Gini lo, jadi pemerintah kita ini lagi mengusulkan kenaikan gaji pejabat tinggi & anggota DPR 20 %. Padahal sebelumnya para menteri sudah mendapat jatah mobil mewwwah seharga 1,3 M. truuuuuz belum lagi rencana pemugaran pagar istana = 22,5 M. truuuuuz rencana pembelian pesawat presiden pribadi dengan anggaran = 400-700 M. (Hwoalah, itu pake uang semua atau…)
Muncul pertanyaan : emang salah ya kalo mereka mau ini itu?
Hheeee tlong di ctrl+B kata2 ini “tentu tidak ada yang salah” JIKA… nah yang ini tolong di ctrl+U “jika semua itu diperoleh dengan cara yang halal, tidak menzolimi hak orang lain.” Tapi apa? Kemewahan itukan cuma dinikmati oleh segelintir pejabat negara, sementara rakyatnya (termasuk aku)? Hhump beasiswa ga cair2, sementara harga beras semakin mahal (terakhir pas beli 7ribu, ini harga Bandung ga tau klo yang di kalimantan, sulawesi, sumatera dan irian sana). Eleuh dasar ibu2, yang dikeluhin ga jauh2 dari persoalan dapur. Hohoho ga gitu juga sih, tapi kan secara umum emang gitu, dan faktanya emang bener. Rakyat banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Betul?
Jadi kalo dipikir2 pake logika orang waras nie… “kenapa sih anggaran untuk paket kemawahan itu ga dikurangin aja dan dialihkan untuk kepentingan rakyat umum? Atau minimal untuk rakyat yang membutuhkan… “ seperti akuw, butuh kosan yang mewah kaya penjara artalyta, butuh laptop yang bagus kaya punya pejabat DPR, butuh meja dan kursi belajar yang kaya dipake wakil rakyat untuk tidur disaat rapat, butuh kendaraan mewah kaya mobil pak menteri dan pejabat tinggi gitu biar kalo hujan gak kehujanan dan kalo panas gak kepanasan. Hummmp, enak kali ya….!
Stop it… Bangun dari mimpimu eny!!!
Asal kamu tau aja. Jangankan anggaran untuk kamu yang bisa makan 3-4 kali/hari, anggaran untuk orang miskin yang belum tentu makan setiap harin aja disunat qo. Untuk datanya sih ga apa2 ya akunya ngutip, menurut Sekjend Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Yuna Farhan, kenaikan gaji dan fasilitas yang diberikan kepada pejabat negara itu berimplikasi pada subsidi masyarakat miskin. Misalnya : belanja subsidi non energi berkurang 6,8 T, pangan 1,5 T, pupuk 3,7 T, benih 56 M, obat generik dihapuskan sejumlah 350 M. kemudian belanja sosial yang didalamnya terdapat Bos dan Jamkesmas di th 2010 dikurangi 8,3 T.
Saat disini suhu tubuhku baru mencapai 60 derajat celcius….
Aku menghela napas panjang, merenungi apa yang telah diperbuat oleh para penguasa, sang penanggungjawab kami di akhirat kelak….
Betul juga kalo dibilang pemimpin kita kehilangan nurani. Soalnya perasaan empati terhadap penderitaan rakyat itu sepertinya sudah mati. Bukan hanya dalam pengaturan anggaran. Tau kan saat ini sedang gonjang ganjing tersibukkan dengan urusan century, harga2 kebutuhan pokok jadi naik, eeeee taunya sang pemimpin malah sempat2nya mengeluarkan album lagu terbaru. Ckckck. (ah.. kamu mah bisanya Cuma menohok aja, jadi pemimpin itu ga semudah membalikkan telapak tangan). Hu euh betul betul betul, makanya kenapa salah seorang sahabat rasul aja ketika diamanahi untuk menjadi pemimpin negara kata yang terucap adalah Innalillahi wainnailaihi rajiun. Betapa mereka yang luar bisa aja mengakui bahwa menjadi kepala negara itu merupakan amanah yang sangat berat karena pertanggungjawabannya langsung di hadapan Allah SWT. Coba bandingin dong dengan yang sekarang… Jabatan kepala negara justru menjadi jabatan yang menggiurkan. Banyak pemanah yang mengincar dan ingin membidik kursinya! Apa gerangan yang membuat kursi itu terlihat sangat menarik?
Temukan jawabannya dari subjek dan objek yang bersangkutan. Sang pemimpin, sang pemanah, rakyat jelata (loh?) dan kursi. Hahahaha. Kegejeanku memasuki stadium akut sudah. Mata tinggal 5 watt, tandanya harus direhatkan. Untuk halaman 4 dst…. (yang bikin aliran darahku panasnya mencapai 100 derajat celcius) To be continued ya… di apa jadinya coba? part 2.
Langganan:
Postingan (Atom)